Kisah Umar Bin Khattab dan Pengemis

Kisah Umar Bin Khattab dan Pengemis

Waktuku.comUmar bin Khatab adalah seorang yang memiliki watak keras. dibalik watak kerasnya Umar, dia memiliki sifat bijaksana, amanah dan jiwa Taqwa yang besar. Terbukti ketakutannya akan pertanggung jawaban ketika menjadi khalifah di dunia.

Ketika Umar bin Khatab melihat ada rakyatnya yang merasa terzholimi, dia akan segera mengirimkan semaksimal mungkin apa yang dia bisa agar rakyatnya tidak merasa terzholimi. dalam kekuasannya, Umar bin Khatab sangat hati – hati dengan kebijakannya.

Kisah Umar bin Khatab dan Pengemis

Suatu hari saat Umar bin Khatab sedang dalam perjalanan pulang dari negeri Syam menuju Madinah ia bertemu dengan seorang wanita yang berlatar belakang sebagai pengemis. Kondisinya sudah tua renta.

Wanita tua itu beristirahat di sebuah gubuk yang kondisinya sudah reyot dan bisa dibilang kurang layak untuk dihuni. Saat itu Khalifah Umar bin Khatab sedang menyamar menjadi orang awam karena beliau ingin melihat sendiri kondisi wanita tersebut.

Umar bin Khatab memang sering melakukan blusukan. Tujuannya adalah agar bisa merasakan sendiri penderitaan yang dialami oleh rakyatnya dan ingin mendapatkan maklumat atau pandangan terhadap rakyat.

Saat tiba dirumah wanita pengemis tua tersebut, Khalifah Umar memberi salam dan kemudian berkata,”Adakah nenek mendengar apa-apa berita tentang Umar?”.”Kabar Umar baru saja pulang dari Syria dengan selamat,”  ucap Nenek pengemis tua tersebut.

“Bagaimana pendapat Nenek tentang Khalifah tersebut?”. Si wanita itu menjawab,”aku berharap Allah tidak membalasnya dengan kebaikan”. Umar kemudian penasaran dengan jawaban si wanita pengemis tua itu dan melanjutkan pertanyaannya.

“Mengapa begitu?”. Wanita menjawab,”Ia sangat jauh dari rakyatnya semenjak menjadi khalifah fia belum pernah menjenguk pondok ini, apa lagi memberi uang?.”. Umar pun menjawab,”Bagaimana mungkin dia dapat mengetahui keadaan nenek sedangkan tempat ini jauh terpencil”.

Wanita pengemis tua itu berkata,”Subhanallah!! Tidak mungkin seorang khalifah tidak mengetahui akan keadaan rakyatnya walau dimana mereka berada,”. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar tersentak lalu berkata didalam hatinya.

“Celakalah aku karena semua orang dan nenek ini pun mengetahui perihal diriku”. Khalifah Umar sangat menyesal dan menitiskan air mata. Kemudian beliau melanjutkan perkatannya,” Wahai nenek, berapakah kamu hendak menjual kezaliman Umar terhadap nenek?”.

“saya kasihan kalau khalifah Umar bin Khatab nanti akan masuk neraka. Itupun kalau nenek mau menjualnya,” . Kemudian Wanita pengemis tua berkata,” Jangan engkau bergurau dengan aku yang sudah tua ini”.

Umar menjawab,”Sya tidak bergurau wahai nenek, saya sungguh – sungguh, berapakah nenek akan menjualnya. Saya akan menebus dosanya. Maukah nenek menerima uang sebanyak 25 dinar ini sebagai harga kezaliman dari Khalifah Umar terhadap nenek?.

“Terimakasih nak, baik benar budi mu” kata wanita pengemis tua itu sambil mengambil uang yang diberikan oleh Khalifah Umar. Sementara itu Ali bin Abi Thalib bersama dengan Abdullah in Mas’ud sedang berjalan dikawasan itu.

Kemudian ia melihat Umar, dan berkata,”Assalamualaykum ya Amirul Mukminin”. Mendengar ucapan itu Nenek tersebut langsung syok dan merasa sangat bersalah karena sudah mencaci Khalifah dihadapan Khalifah Umar sendiri.

“Masya Allah, celakalah aku dan ampunilah nenek atas kelancangan nenek tadi ya Amirul Mukminin. Nenek relah memaki Khalifah Umar dihadapan tuan sendiri”. Kemudian Umar mempertegas dengan kelembutan,” tidak apa-apa nek, semoga Allah merahmatimu”

Kemudian Umar merobek baju samarannya dan menuliskan,”Bissmillahirrahmanirrahim, Dengan ini Umar bin Khaab telah menebus dosanya atas kezaliman terhadap seorang nenek yang merasa dirinya dizalimi oleh Umar bin Khatab. Semenjak menjadi Khalifah sehingga ditebusnya dosa itu dengan 25 dinar. Dengan ini jika perempuan iu mendakwa Umar di hari Mahsyar, maka Umar sudah bebas dan tidak bersangkut paut lagi:”.

Pernyataan tersebut ditandatangai oleh Ali bin Abi Thalib dan disaksikan oleh Abdullah bin Mas’ud. Baju tersebut diserahkan kepada Abdullah bin Mas’ud sambil berkata,” simpanlah baju ini dan jika aku mati masukkan kedalam kain kafanku untuk dibawa mengadap Allah SWT,”.