Syarat dan Rukun Umroh

Syarat dan Rukun Umroh

Waktuku.comSyarat dan Rukun Umroh, Sebelum kamu melaksanakan ibadah umroh ada baiknya untuk mengetahui terlebih dahulu tentang ibadah ini, mengenai syarat dan rukun umroh. Karena jika dilihat-dilihat, banyak sekali orang yang hendak pergi umroh dan mencari informasi hal ini.

Artikel inipun dibuat agar memberikan suatu informasi lebih banyak dan dapat memecahkan permasalahan kamu terkait hal ini, dan semoga bagi kamu yang hendak berangkat umro isa dilancarkan.

Syarat Umroh

Syarat Umroh

1. Islam

Ibadah umroh merupakan salah satu ibadah dalam agama Islam. Umroh ini diperuntukan bagi umat Muslim yang mampu, sedangkan bagi non-muslim tentu saja tidak dapat melakukannya.

2. Berakal

Ibadah ini disyariatkan bagi muslim berakal sehat. Tidak diperintahkan umroh bagi orang gila dan tidak sah umroh yang dilakukan oleh orang gila.

3. Istitaah

Istitaah artinya memiliki kemampuan dari segi fisik, biaya maupun keamanan.

4. Merdeka

Orang yang umroh bukan dari seorang hambah sahaya (budak) karena ibadah umroh ini memerlukan waktu yang panjang dan dikhawatirkan kepentingan tuannya diabaikan.

Rukun Umroh

Rukun Umroh

1. Ihram

Ihram merupakan niat untuk masuk kedalam manasik haji. Apabila ada yang meninggalkan ihram, maka hajinya tidak sah, hal ini sesuai dengan Hadits Nabi.

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no.1 dan Muslim no. 1907)

2. Wukuf di Padang Arafah

Wukuf di padang Arafah merupakan rukun haji yang terpenting. Orang yang tidak melaksanakan wukuf, berarti hajinya tidak sah.

Ibnu Rusyd berkata, “Para ulama telah sepakat bahwa wukuf di padang Arafah merupakan bagian dari rukun haji dan barangsiapa yang luput atau meninggalkannya, maka harus ada haji pengganti atau hajinya diulang tahun berikutnya.”

Nabi bersabda:

“Haji adalah wukuf di Arafah.” (HR. An Nasai no. 3016, Tirmidzi no. 889, Ibnu Majah no. 3015. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Maksud dari wukuf yaitu hadir dan diam berada di daerah Arafah, baik itu dalam keadaan sadar, tertidur, berkendaraan, duduk, berjalan atau berbaring, entah itu dalam keadaan suci atau tidak suci (junub, haidh, nifas) (Fiqih Sunnah, 1:494).

Waktu wukuf dimulai dari matahari tergelincir atau waktu zawal pada hari Arafah, tepat tanggal 9 Dzulhijjah sampai dengan waktu terbit fajar Shubuh pada hari nahr tanggal 10 Dzulhijjah.

Apabila wukuf dilaksanakan selain pada waktu tersebut, maka wukufnya tidak sah berdasarkan kesepakatan para ulama.

3. Tawaf Ifadah

Tawaf yaitu mengitari Ka’Bah sebanyak 7 kali putaran. Allah berfirman:

“Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al Hajj: 29).

4. Sa’i

Sa’i merupakan berjalan dari Shofa ke Marwah dan sebaliknya dalam rangka ibadah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اسْعَوْا إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْىَ

“Lakukanlah Sa’i karena Allah mewajibkan kepada kalian untuk melakukannya.” (HR. Ahmad 6: 421. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits tersebut hasan).

5. Tahallul

Tahallul ialah diperbolehkannya kembali jemaah melakukan apa yang dilarang saat ihram. Simbol dari tahallul yakni minimal memotong rambut sebanyak 3 helai, akan tetapi tidak jarang pula yang membotaki rambutnya.

Dengan begitu, maka apa yang dilarang saat ihram, menjadi diperbolehkan untuk dilakukan kembali. Semua mazhab berpendapat bahwa tahallul merupakan wajib haji. Namun beberapa juga mengatakan bahwa tahallul termasuk pada rukun haji.

6. Tertib

Tertib adalah mengerjakan seluruh rukun-rukun haji sesuai urutannya dan tidak boleh ada yang terlewat. Tidak hanya haji, banyak ibadah dalam syariah Islam yang memasukkan tertib sebagai rukun dan biasanya menjadi rukun terakhir.

Sedangkan rukun sendiri bermakna apa-apa yang harus dijalankan. Sehingga dengan adanya rukun tertib, tidak diperbolehkan meloncati rukun-rukun yang telah ditetapkan dan membuat umat Islam sedunia seragam dalam menjalankan ibadah.