porno_jepang

Waktuku.com – Juni 2016 lalu Industri film dewasa asal Jepang  telah menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada seluruh artis porno untuk melakukan adegan seks di film-film mereka.

“mendorong produsen untuk mengambil tindakan, untuk segera memperbaki serta memulihkan kondisi dari seluruh industri sektor tersebut. Kami juga menyesal akan kasus ini, kami mohon maaf.” Pernyataan tersebut dinyatakan oleh Intelectual Property Promotion Assosiation (IPPA) yang mewakili industri film porno Jepang.

Di Jepang produksi film porno memang dilegalkan secara resmi oleh pemerintah Jepang. Akan tetapi pelegalan tersebut memiliki sebuah syarat melalui Law Regulating Adult Entertaiment Bussines, Pemerintah Jepang secara resmi telah melegalkan industri film dewasa asalkan dalam pembuatannya tidak mengandung unsur paksaan terhadap para aktor. Meskipun industri film ini dilegalkan, setiap produsen yang membuat film porno tersebut wajib menyensor alata vital baik laki-laki maupun perempuan, hal tersebut telah diatur oleh  NEVA (Nihon Ethics of Video Association).

Kemunculan pertama fim dewasa Jepang ini bermula sejak zaman Edo (1603-1886), hal tersebut dikemukakan oleh Peter Payne dalam tulisannya di “The History of the Japanese Adult Industry, and ‘That Pool’”. Tapi bentuk film dewasa dizaman dulu hanya berbentuk lukisan-lukisan erotis serta sensual yang sering disebut dengan “Shunga” (Spring Pictures). Pada zaman tersebut terdapat sebuat lukisan yang sangant terkenal yakni “The Dream of Fisherman’s Wife” atau yang sering disebut sebagai “Naughty Tentacles” yang merupakan karya dari Pelukis terkenal asal Jepang, Hokusai.

Dengan seiring berkembangnya zaman khususnya di bidang tekhnologi dan Informasi, para produsen filmpun mulai mengembangkan filmnya degan mengalihkan lukisan-lukisan seks ke dalam bentuk video. Beberapa produsen film porno yang cukup terkenal adalah  Daiei, Nikkatsu, Shochiku, Toei, dan Toho. Akan tetapi pada zaman itu produksi film seks hanya fokus terhadap cerita-cerita dengan tujuan untuk merangsang dan sedikit menunjukan ketelanjangan dengan adegan seks, film-film tersebut terkenal dengan sebutan “pink film”.

Ditahun 1971 film-film pabrikan Amerika pun mulai bermunculan hingga mendominasi pasar Perfilman di Jepang, alih-alih takut kalah saing oleh film Amerika, Takashi Itamochi yang merupakan pemilik serta Presiden dari studio film besar tertua di Jepang “Nikkatsu” mengembangkan “Pink Film” sebagai salahsatu upaya dia untuk menarik perhatian penonton masyarakat Jepang kembali.

Alhasil pada November 1971, Studio Nikkatsu merilis dua seri film dewasa dengan adengan seks lebih banyak dibandingkan dari film-film sebelumnya, kedua seri tersebut adalah “Roman Porni” dan “Apartement Wife”. Kedua seri film tersebut film porno pertaman Jepang karena sering menayangkan adegan seks dan ketelanjangan lebih banyak dibandingkan film-film sebelumnya.

Keberhasilan Nikkatsu dalam membuat dua seri film tersebut dapat menarik minat penonton Jepang kembali. Tercatat hingga 70%  masyarakat sangat menyukai film tersebut. Tak hanya Nikkatsu, Shintoho Eiga dan Millio Film pun ikut memproduksi film porno. Dan dari sinilah awal mulai Film Porno jepang mulai berkembang hingga saat ini.