9 Sejarah Peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Indonesia

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Watkuku.com – Peninggalan kerajaan Sriwijaya, kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan terbesar di Indonesia. Kerajaan ini terkenal dengan kekuatan maritimnya, bahkan kekuatan tersebut bisa membuat kerajaan menguasai pulau Jawa, Sumatera, Kamboja, Semenanjung Malaya Thailand Selatan dan juga Pesisir Kalimantan. Berkat kekuasaannya, Kerajaan Sriwijaya menjadi sebuah kerajaan yang sukses dalam menguasai kegiatan perdagangan di wilayah Asia-Tenggara di masa kejayaannya itu.

Kerajaan Sriwijaya berasal dari dua suku kata yaitu Sri yang artinya ialah gemilang atau bercahaya dan wijaya yang artinya ialah kemenangan. Bila digabungkan, Sriwijaya artinya ialah kemenangan yang bergemilang. Mengingat bahwa di kerajaan ini begitu terkenal sampai mendunia, tak heran bila Sriwijaya disebut dengan nama yang berbeda dari berbagai negara.

Dalam bahasa Pali dan jua Sansekerta, Sriwijaya terkenal dengan sebutan Javadeh dan Yavadesh. Di Tionghoa, Kerajaan Sriwijaya dikenal dengan nama San-fo-ts’i, San FoQi atau juga Shih-li-fo-shih. Sementara bangsa Arab mengenal kerajaan Sriwijaya dengan Sribuzaatau Zabaj.

Siapakah nama raja kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya

1. Raja Daputra Hyang
2. Raja Dharmasetu
3. Raja Balaputradewa
4. Raja Sri Sudamaniwarmadewa
5. Raja Sanggrama Wijayattunggawarman

Sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Mulai Berdirinya

Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya semakin terkenal sampai generasi sekarang sebab masa kejayaannya yang sangat luar biasa di abad sekitar 9 – 10 Masehi. Pada masa itu, Kerajaan Sriwijaya mengetahui kekuasaan jalur perdagangan melalui laut atau maritim sekitar wilayah Asia Tenggara. Dalam dunia maritim, Sriwijaya berhasil melakukan kolonisasi dengan hampir semua kerajaan-kerajaan besar yang terdapat di Asia Tenggara.

Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya menyentuh tanah Sumatera, Semenanjung Malaya, Jawa, Thailand, Vietnam, Filipina sampai Kamboja. Kekuasaan kerajaan Sriwijaya tersebut mencakup pengendalian rute kegiatan perdagangan lokal dan juga rempah.

Yang mana mereka mengenakan bea cukai pada semua kapal yang lewat. Tak hanya mengumpulkan kekayaan dari Negara maritim, Kerajaan Sriwijaya juga mengumpulkan kekayaan tersebut melalui gudang perdagangan gunapasar India dan Tiongkok.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya tidak banyak yang menerangkan kapan kerajaan ini berdiri. Pasalnya bukti peninggalan tertua justru berasal dari Cina. Yang mana pada tahun 682 M, terdapat seorang pendeta berasal dari Tiongkok bernama I-Tsingingin yang mendalami agama Budha di wilayah India, lalu singgah dengan tujuan mempelajari bahasa Sansekerta di Sriwijaya. Pada saat itu, tercatat juga bahwa kerajaan Sriwijaya dikuasai dengan Dapunta Hyang.

Disamping berita Cina, bukti keberadaan Sriwijaya ada yang tertulis dalam beberapa prasasti. Salah satunya ialah Prasasti di Palembang yaitu prasasti Kedukan Bukit (605S/683M). Dalam prasasti itu, diketahui bahwa Dapunta Hyang melakukan ekspansi selama 8 hari untuk mengikutsertakan 20.000 tentara dan berhasil menguasai serta menaklukan beberapa daerah.

Mulai dari kemenangan inilah, kerajaan Sriwijaya semakin makmur dan juga sejahtera. Bila melihat bukti dari Cina dan juga prasasti di Palembang, para ahli menyimpulkan bahwa raja pertama dari Kerajaan Sriwijaya ialah Dapunta Hyang, dan kerajaan ini mulai berdiri kira-kira abad ke-7.

Faktor Penyebab Dari Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya

Sejarah dari Kerajaan Sriwijaya pun menceritakan tentang bagaimana runtuhnya dari kerajaan besar tersebut. Diketahui bahwa sebuah kemunduran kerajaan Sriwijaya telah disebabkan oleh banyak sekali faktor.

Salah satunya ialah karena adanya sebuah serangan dari Rajendra Chola I yaitu merupakan seseorang dari dinasti Cholda di suatu wilayah Koromande, India bagian Selatan sekitar tahun 1025 dan 1017.

Dari serangan tersebut, banyak dari armada perang kerajaan Sriwijaya yang dapat luluh lantah. Hal ini jugalah yang menjadikan perdagangan yang dikuasai pada Sriwijaya jatuh ke tangan Raja Chola. Meskipun demikian, dari kerajaan Sriwijaya akan masih tetap berdiri. Kekuatan militernya yang melemah membuat sejumlah daerah yang sudah dikuasai telah melepaskan diri.

Bahkan, telah muncul sebuah kekuatan baru dari Pagaruyung dan juga Dharmasraya yang telah menguasai daerah kekuasaan dari Kerajaan Sriwijaya. Tak hanya itu, telah bermunculan juga raja – raja hebat di berbagai wilayah yang menjadikan aktivitas perdagangan dari Sriwijaya semakin melemah. Dan pada akhirnya, Sejarah dari Kerajaan Sriwijaya menyebutkan bahwa kerajaan ini telah runtuh pada abad ke-13.

Demikianlah pembahasan dari peninggalan kerajaan sriwijaya yang seharusnya patut kita dalami. Ternyata peninggalan – peninggalannya belum tentu berada di Indonesia, akan tetapi banyak sekali yang berada di luar Negara Indonesia. Dengan membaca artikel ini semoga kalian akan lebih menambah banyak pengetahuan tentang sejarah dan beberapa peninggalan kerajaan sriwijaya.

Prasasti dan Candi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Peninggalan kerajaan Sriwijaya penemuannya tidak hanya di Indonesia, namun di beberapa negara luar Indonesia juga peninggalan dari kerajaan Sriwijaya. Misalnya di Malaysia dan India, berikut ialah peninggalan-peninggalan dari kerajaan Sriwijaya di Indonesia dan juga di luar Indonesia.

1. Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit

Peninggalan kerajaan sriwijaya ini ditemukan di dekat Kota Palembang yang berangka tahun 683 Masehi. Isinya cerita tentang Raja Sriwijaya (Dapunta Hyang) mengadakan perjalanan suci dari Minanga Tamwan guna mendapatkan Siddhayatra dan keberhasilnya dalam memakmurkan Kerajaan Srwijaya.

Perjalanan itu diiringi dengan 2.000 pasukan tersebut, ia telah berhasil menaklukan daerah – daerah lain. Prasasti peninggalan dari kerajaan Sriwijaya ini kini disimpan di sebuah Museum Nasional Indonesia.

Batenburg telah menemukan sebuah batu bertulis yang ada di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir sekitar Pada tanggal 29 November 1920. M, di Palembang. Prasasti ini berukuran sekitar 45 × 80 cm dan tertulis menggunakan bahasa Melayu Kuno dan juga aksara Pallawa.

2. Prasasti Talang Tuo

prasasti talang tuo

Peninggalan kerajaan sriwijaya selanjutnya ditemukan di sebelah barat Kota Palembang yang berangka tahun 684 Masehi. Isinya menceritakan pembuatan Taman Srikseta dari Raja Dapunta Hyang guna kemamkmuran rakyat.

Louis Constant Westenenk (seorang residen Palembang pada tanggal 17 November 1920) telah menemukan sebuah prasasti di kaki Bukit Seguntang di tepian utara Sungai Musi.
Namanya adalah Prasasti Talang Tuwo. Merupakan sebuah prasasti yang isinya doa-doa dedikasi.

Prasasti ini telah menggambarkan bahwa aliran Budha yang digunakan oleh kerajaan Sriwijaya pada masa itu ialah aliran Mahayana. Hal ini dibuktikan dengan digunakannya kata – kata khas di aliran Budha Mahayana. Seperti pada bodhicitta, vajrasarira, annuttarabhisamyaksamvodhi, dan juga mahasattva.

3. Prasasti Telaga Batu

prasasti telaga batu

Peninggalan kerajaan sriwijaya berikutnya ditemukan di dekat Kota Palembang yang tidak berangka tahun. Isinya menceritakan tentang kutukan-kutukan pada siapa pun yang melakukan kejahatan serta yang tidak taat pada raja.

4. Prasasti Karang Berahi

prasasti berahi
Image by: situsbudaya.id

Prasasi ini ditemukan di Karang Berahi (Provinsi Jambi) yang berangka tahun 868 Masehi. Isinya menceritakan tentang permintaan pada dewa guna menghukum setiap orang yang melakukan kejahatan pada Kerajaan Sriwijaya.

5. Prasasti Kota Kapur

kota kapur

Prasasti yang ditemukan di Kota Kapur (Pulau Bangka) yang berangka tahun 686 Masehi ini adalah prasasti kota kapur. Isinya menceritakan tentang usaha Kerajaan Sriwijaya saat menundukkan Pulau Jawa, yakni Kerajaan Tarumanegara yang dianggap tidak setia pada Kerajaan Sriwijaya.

6. Prasasti Palas Pasemah

Prasasti Palas Pasemah

Berikutnya peninggalan kerajaan sriwijaya yang ditemukan di sekitar Palas Pasemah (Provinsi Lampung) yang tidak berangka tahun. Isinya mencertitakan bahwa daerah Lampung Selatan diduduki oleh Kerajaan Sriwijaya sekitar akhir abad ke-7 Masehi.

7. Prasasti Bukit Siguntang

Prasasti Bukit Siguntang

Prasasti bukit Siguntang ada di Kota Palembang ini berupa komplek pemakaman raja-raja Kerajaan Sriwijaya. Termasuk peninggalan Kerajaan Sriwijaya berupa arca Budha Sakyamurni mengunakan jubah dan Prasasti Bukit Siguntang. Didalamnya berisikan tentang peperangan yang telah merenggut banyak nyawa.

8. Prasasti Amoghapasa

Prasasti Amoghapasa

Prasasti amoghapasha ini ditemukan di provinsi Jambi yang berangka tahun 1286 M. Isi peninggalan kerajaan sriwijaya ini menyebutkan bahwa raja Kertanegara telah menghadiahkan sebuah arca amogapasha kepada raja Suwarnabhumi yang bernama Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa sebagai Raja dan rakyatnya yang sangat gembira.

PENINGGALAN KERAJAAN SRIWIJAYA DI LUAR INDONESIA

Peninggalan kerajaan sriwijaya yang ditemukan di luar Indonesia tak hanya ada satu buah peninggalan saja. Melainkan ada beberapa peninggalan sejarah yang harus anda ketahui. Beberapa peninggalan yang dimaksud diantaranya:

1. Prasasti Ligor

Yaitu ditemukan dilokasi Tanah Genting (Thailand) yang berangka tahun 775 Masehi. Prasasti ini terdiri atas dua bagian, yakni bagian depan dan juga bagian belakang. Bagian depan isinya tentang bangunan Trisamaya Caiya (bangunan suci yang dibuat dari batu bata untuk Budha), Awalokiteswara, dan juga Wajrapani. Bagian belakang isinya tentang Raja Wisnu dan juga keluarga Sri Maharaja Syailendra.

2. Prasasti Katon

Yang ditemukan di Kanton (China) yang berangka tahun 1079 Masehi. Isinya tentang bantuan Raja Sriwijaya saat memperbaiki sebuh kuil agama Thao di Kanton.

3. Prasasti Nalanda,
Yaitu ditemukan di daerah Benggala (India) yang berangka tahun 860 Masehi. Prasasti ini menyebutkan bahwa seorang Raja Balaputradewa telah membangun tempat tinggal untuk para pelajar dan juga sebuah biara di Benggala.

4. Piagam Leiden

Yaitu ditemukan di daerah India yang berangka tahun 1006 M. Prasasti ini dikeluarkan pada raja kerajaan Cola yang bernama Raja kesariwarman dan dikenal dengan Raja I. Isinya telah menyebutkan bahwa sekitar tahun 1006 M, Marawijayatunggawarman meresmikan wihara di Negara India yang diberi nama Cudamaniwarmavihara berkat ijin dari Rajakesariwarman, yaitu raja-raja I dari Cola.

5. Prasasti Srilanka

Diperkirakan telah dibuat pada abad XII. Dalam prasasti ini telah disebutkan bahwa Suryanaraya dari wangsa Malayupura dinobatkan menjadi maharaja di Suwarnapura. Pangeran Suryanarayana telah menundukkan Manabhramana.

6. Prasasti Grahi

Yaitu berangka tahun 1183 M yang menyebutkan nama dari seorang raja Srimat Trilokyaraja Maulibhusanawarmadewa sedang memerintahkan mahasenapati Jalanai dengan memerintah Grahi sebagai membuat arca Budha.

7. Prasasti Chaiya

Prasasti chaiya ini ditemukan di Candra Bhanu (Malaysia Barat) yang berangka tahun 1230 M. Menyebutkan tentang seorang raja Tambralingga, Candra Bhanu, Sri Dharmaraja yang menyamakan diri dengan raja Asoka, sebuah jasa-jasanya terhadap umat manusia telah disamakan dengan bulan dan juga matahari.

8. Prasasti Tanjore

Peninggalan ini ditemukan di Negara India yang berangka tahun 1030 M. Dibuat oleh seorang raja Cola yang bernama Rajendracoladewa. Disitu disebutkan bahwa pada tahun 1017 M pasukannya telah menyerang kerajaan Swarnabhumi (Sumatera).

Serangan itu diulang kembali sekitar pada tahun 1025, rajanya yang bernama Sanggrama wijaya tunggawarman telah berhasil ditawan oleh pasukan Cola, namun akhirnya Sanggramawijaya dilepaskan.

9. Candi Muara Takus

Peninggalan bernama Candi Muara Takus ini terletak di desa Muara Takus, Kecamatan Tigabelas Koto Kampar, Kabupaten Kampar di Propinsi Riau. Jaraknya antara dari Pekanbaru Ibukota Propinsi Riau kurang lebih 128 Km.

Kompleks Candi Muara Takus ini merupakan satu-satunya sebuah peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Provinsi Riau. Candi ini bernuansa dengan Buddhistis. Hal tersebut merupakan sebuah petunjuk bahwa agama Budha yang pernah berkembang di kawasan ini.