Pengertian Zakat Mal dan Zakat Fitrah

Pengertian Zakat
Image by: http://www.risalahmujahidin.com/masalah-zakat-profesi/

Waktuku.com – Pengertian zakat secara harfiah, zakat berarti “menyucikan”. Ini mengacu pada pemurnian kekayaan dan jiwa orang percaya. Pemurnian kekayaan menunjukkan mobilisasi aset untuk tujuan pertumbuhan keuangan dan distribusi yang dapat dibenarkan. Pemurnian jiwa menyiratkan kebebasan dari kebencian, kecemburuan, keegoisan, ketidaknyamanan dan keserakahan. Konotasi Quran lainnya juga termasuk pemurnian dosa.

Zakat adalah proporsi tetap yang dikumpulkan dari kelebihan kekayaan dan penghasilan orang beriman. Kemudian didistribusikan ke penerima manfaat yang ditentukan dan untuk kesejahteraan serta infrastruktur masyarakat pada umumnya. Sumbangan ini dibayarkan setiap tahun oleh seorang Muslim.

Zakat dibayar dengan saldo bersih setelah seorang Muslim menghabiskan kebutuhan pokok, biaya keluarga, kredit macet, sumbangan dan pajak. Setiap pria Muslim atau wanita yang pada akhir tahun Hijriah memiliki setara dengan 85 gram emas atau lebih dengan uang tunai atau barang dari barang, harus membayar zakatnya setinggi-tingginya 2,5 persen sesuai dengan pengertian zakat yang sudah dijelaskan.

Arti dan Tujuan Zakat

Arti harfiah dari zakat adalah ‘membersihkan’ atau ‘pemurnian’. Dalam agama Islam, zakat berarti menyucikan kekayaan Anda untuk kehendak Allah SWT; Untuk mengakui bahwa semua milik kita milik Allah SWT dan untuk bekerja menuju kemajuan umat Islam. Menurut peraturan Islam, zakat adalah 2,5% dari total kekayaan kumulatif satu tahun. Jumlah ini kemudian dibagikan kepada orang miskin. Nabi Muhammad SAW telah mengatakan “Barangsiapa yang membayar zakat atas kekayaannya akan menghapus kejahatannya darinya” (Ibn Khuzaimah dan at-Tabaraani).

Zakat Sebagai Alat Pemurnian Rohani

Zakat bukan hanya sarana untuk menyucikan kekayaan seseorang tapi juga pemurnian spiritual yang berfungsi sebagai sarana untuk menarik seseorang lebih dekat kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Ibnu Taimiah mengatakan bahwa, “jiwa seseorang yang memberi zakat diberkati dan begitu juga kekayaannya”. Cukup jelas dari narasi di atas bahwa selain menjadi kewajiban moral, zakat juga bersifat spiritual sehingga jutaan Muslim setiap tahun memberi zakat kepada orang miskin.

Tuhan berfirman dalam Quran:

“Mereka diperintahkan hanya untuk menyembah Tuhan, tulus dalam iman mereka kepada Dia saja – dan agama yang jujur – dan untuk menetapkan Salat dan Zakat. Begitulah agama yang teguh, ( 98: 5 )

“Mereka yang menaruh harta emas dan perak dan tidak menghunuskanya di jalan Allah, memberi mereka kabar tentang hukuman yang menyakitkan, pada hari ketika (kekayaan) itu akan dipanaskan dengan api neraka, dahi dan sisi mereka dan Punggung mereka bercorak dengan itu: “Inilah harta karun yang kamu tempatkan untuk dirimu sendiri! Rasakanlah harta karunmu! “( 9: 34-35 ).

Bukhari dan Muslim berhubungan dengan otoritas Ibn Abbas bahwa Rasulullah SAW Mengirim Mu’adh ke Yaman dia mengatakan kepadanya, “Anda pergi ke orang-orang yang memiliki Alkitab, maka mintalah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Tuhan, dan bahwa saya adalah utusan Allah. Jika mereka menanggapi ini , Kemudian ajari mereka bahwa Tuhan telah memberlakukan lima salat kepada mereka setiap hari.

Jika mereka menanggapi hal ini, maka ajari mereka bahwa Allah telah mengenakan kepada mereka amal untuk diambil dari orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang miskin mereka. Jika mereka menanggapi Untuk ini, maka berhati-hatilah untuk mengambil lebih banyak dari kekayaan mereka! Waspadalah juga doa orang-orang yang tertindas, karena tidak ada kerudung antara doa dan tuhan seperti itu.”

5 Hal Dalam Membayar Zakat Seperti Yang Sudah Di Jelaskan Dalam Pengertian Zakat

1. Kondisi untuk zakat Beberapa syarat harus dipenuhi sebelum zakat bisa dibayar. Kondisi ini diperlukan karena zakat hanya bisa diterapkan pada mereka yang berusia legal dan memiliki aset yang cukup. Kondisi ini dikategorikan menjadi dua kategori besar, yaitu pelaku dan aset. Setiap muslim yang berumur tertentu dan memiliki cukup aset wajib membayar zakat.

2. Aset Zakat Kepemilikan Penuh Seorang Muslim hanya akan diminta untuk membayar zakat jika dia memiliki kepemilikan aset penuh dan legal. Zakat hanya dibayarkan atas aset-aset yang diperoleh untuk tujuan menciptakan atau menghasilkan kekayaan. Beberapa contoh jenis aset ini adalah ternak atau tanaman pangan yang diperdagangkan atau dijual, persediaan barang yang digunakan untuk diperdagangkan, dan investasi seperti emas atau sekuritas yang memiliki potensi apresiasi nilai. Namun, zakat tidak dibayarkan dalam kasus aset tetap seperti bangunan, jika tidak dikenakan “sirkulasi modal”.

3. Aset yang melebihi nilai minimum Zakat hanya perlu dibayar atas aset yang melebihi nilai minimum. Nilai minimum ini dihitung berdasarkan harga pasar 85 gram emas atau 595 gram perak murni. Nilai minimum ini disebut Nisab. Dewan Fiqih dan Penelitian Islam, serta Jumhur (mayoritas) Ulama ‘merekomendasikan agar emas digunakan sebagai dasar penghitungan nisab.

4. Penyelesaian Haul Haul didefinisikan sebagai periode penyelesaian aset zakat. Lamanya waktu untuk tangkapan adalah satu tahun Islam atau Hijriah (1 tahun Hijriah = 354,5 hari, 1 tahun Solar = 365,25 hari). Zakat hanya dibayarkan atas aset yang telah dimiliki setidaknya selama periode ini.

5. Penerima manfaat zakat Alquran ( 9:60 ) mengklasifikasikan zakat penerima zakat dengan mengikuti delapan kategori berikut. “Zakat adalah untuk orang miskin, dan orang-orang yang membutuhkan dan mereka yang dipekerjakan untuk mengelola dan mengumpulkannya, dan orang-orang yang baru bertobat, dan bagi orang-orang yang terikat, dan dalam hutang dan pelayanan untuk tujuan Allah, dan bagi orang-orang yang tidak beruntung, Sebuah tugas yang ditahbiskan oleh Tuhan, dan Godis the All-Knowing, the Wise”.

Zakat hanya bisa didistribusikan ke salah satu dari delapan penerima manfaat yang berhak (asnaf) yang disebutkan dalam Al Quran dalam Surah Taubah serta dalam pengertian zakat tersebut: 60. Namun, prioritas harus diberikan kepada orang miskin dan membutuhkan. Dimana tidak ada otoritas pusat untuk mengelola zakat, maka bisa dibayarkan langsung kepada yang membutuhkan.

“Sedekah adalah untuk orang miskin dan yang membutuhkan, dan mereka yang dipekerjakan untuk mengelola (dana); karena orang-orang yang hatinya (baru-baru ini) berdamai (dengan kebenaran); bagi mereka yang terikat dan hutang; di jalan Allah; Dan bagi musafir: (demikianlah) ditahbiskan oleh Allah, dan Tuhan penuh dengan pengetahuan dan kebijaksanaan.” ( 9:60 )