12 Perjanjian Bongaya: Latar Belakang, Isi & Dampaknya Lengkap

Perjanjian Bongaya
image by: theinsidemag.com

Waktuku.com – Perjanjian Bongaya diakibatkan oleh terjadinya politik adu domba, yang dilakukan oleh VOC pada dua kesultanan besar yang telah lama bertikai di Makassar saat itu.

Isi perjanjiannya membuat Kerajaan Gowa yang ada di Makassar takluk pada kekuasaan politik dan juga ekonomi pada VOC.

Namun setelah Sultan Hasanudin meninggal kekuatan yang dimiliki oleh Kerajaan Gowa pun mulai memudar.

Jika saat itu Kesultanan Bone dan Gowa tidak terpengaruh oleh politik adu domba yang dilakukan VOC, mungkin perjanjian ini tidak akan terjadi.

Latar Belakang Perjanjian Bongaya

Latar Belakang Perjanjian Bongaya
image by: theinsidemag.com

Disebut dengan Perjanjian Bongaya adalah, karena saat itu pembuatan perjanjiannya dilakukan di Desa Bongaya pada tahun 1667. Pada abad ke-16 Makassar menjadi wilayah di Indonesia yang menghasilkan rempah-rempah paling berkualitas.

Ditambah lagi dengan jalur perdagangannya yang sangat strategis. Wilayahnya juga dibagi atas dua kekuasaan terbesar yang berjaya saat itu, yaitu Kesultanan Bone dan juga Kesultanan Gowa. Namun hubungan dua kesultanan tersebut tak berjalan dengan baik.

Mereka sering berperang sekaligus bersaing dalam waktu lama. kemudian Belanda datang dan mengincar kota niaga di Makassar yang disebut Somba Opu. Maka Belanda melakukan politik adu domba, antara Aru Palaka dari Kesultanan Bone dengan Sultan Hasanudin dari Gowa.

Akhirnya Sultan Hasanudin pun kalah dan Belanda membuatnya terpaksa menandatangani perjanjian damai, yang disebut dengan Perjanjian Bongaya.

Tujuannya adalah untuk mengakhiri perang antara Gowa dengan Bone sekaligus mencengkeram Kota Makassar agar berada di tangan VOC, dan menjadi sektor utama kehidupan. Perjanjian ini akhirnya ditandatangani Hasanudin dan juga Laksamana Cornelis Speelmen.

Dampak Perjanjian Bongaya

Semua poin yang ada di dalam perjanjian memberikan dampak yang tidak baik untuk Kerajaan Makassar.

Seperti wilayah kekuasaan yang terus menyempit, ganti rugi yang harus dibayarkan dalam jumlah besar, hingga adanya monopoli perdagangan.

Dalam perjanjian itu juga disebutkan bahwa ada kuasa serta akses perdagangan yang diambil alih oleh VOC, yaitu perdagangan di wilayah Gowa. Maka roda ekonomi kesultanan pun berada di tangan VOC.

Kesultanan Gowa memang masih bisa bertahan lebih lama, tetapi secara politik sebenarnya sudah lumpuh. Hal itu disebabkan oleh penandatanganan perjanjian yang dilakukan oleh Sultan Hasanudin.

Perjanjian ini tidak hanya menjatuhkan ekonomi di kerajaan saja, tapi juga meruntuhkan martabat dari para bangsawan yang saat itu sudah terikat dengan perjanjian.

Isi dan Rumusan Perjanjian Bongaya

Walaupun judulnya adalah perdamaian, tetapi dalam kenyataannya perjanjian ini sama dengan deklarasi kekalahan dari Kesultanan Gowa.

Pada saat itu kekuatan senjata yang dimiliki VOC ditambah dengan kerasnya tekanan, membuat Hasanudin akhirnya menandatangani perjanjian serta menyerah pada Belanda dengan monopoli perdagangan di Kerajaan Makassar.

Pada umumnya, isi Perjanjian Bongaya dirangkum dengan hal berikut:

1. VOC menguasai monopoli perdagangan yang berada di wilayah Sulawesi Tenggara dan juga Sulawesi Selatan.

2. Makassar harus melepaskan semua wilayah bawaannya seperti Bone, Sopeng, Waju, dan Luwu dan yang tersisa hanya wilayah Gowa saja.

3. Sultan Hasanudin harus mengakui bahwa Aru Palaka telah ditetapkan sebagai Raja Bone.

4. Makassar harus membayar ganti rugi dari biaya yang dikeluarkan untuk perang, dengan hasil bumi yang dibayarkan setiap tahunnya pada VOC.

5. Makassar juga harus memberikan semua benteng yang dimiliki.

Isi Perjanjian Bongaya

1. Perjanjian yang ditandatangani oleh Karaeng Popo mulai diberlakukan, dan menjadi duet antara Pemerintah Makassar dengan Dewan Hindia di Batavia dan Gubernur Jenderalnya di tahun 1660.

Kemudian perjanjian antara Jacob Cau dan Pemerintah Makassar juga ditetapkan, yaitu Jacob Cau yang menjadi Komisioner Kompeni tepatnya pada tanggal 2 Desember 1660.

2. Seluruh alat, uang, meriam, dan barang tersisa yang diambil dari Leeuwin di Don Duangu serta dari kapal Walvisch di Selayar, harus diberikan lagi pada kompeni.

3. Orang yang terbukti bersalah pada kasus pembunuhan orang Belanda di semua tempat harus diadili langsung oleh perwakilan dari Belanda, dan harus dihukum dengan hukuman yang sesuai.

4. Raja-raja dan juga bangsawan dari Makassar harus membayar ganti rugi serta semua hutang pada kompeni, dengan batas waktu di musim selanjutnya.

5. Semua orang Inggris dan juga Portugis harus keluar dari Makassar dan tidak diperbolehkan tinggal atau berdagang di Makassar. Orang-orang Inggris dan semua barang bawaan mereka juga harus dibawa ke Batavia.

6. Tak ada orang Eropa yang saat itu boleh berdagang dan masuk ke Makassar.

7. Perdagangan yang terjadi di Makassar saat itu hanya boleh dilakukan oleh kompeni.

8. Kompeni juga bebas dari pembayaran bea untuk pajak impor/ekspor.

9. Hanya mengizinkan bangsawan serta rakyat untuk berlayar ke Pantai Jawa, Jambi, Johor, Bali, Jakarta, Palembang, Banten, dan juga Kalimantan.

Selain itu mereka pun harus meminta izin pada Komandan Belanda jika ingin melakukan pelayaran.

Apabila ada yang melanggar peraturan itu maka akan diperlakukan seperti musuh dan dianggap sebagai musuh.

10. Tak boleh ada kapal yang dikirim ke wilayah Solor, Bima, Timor, dan sebagainya. Semua pelanggaran tersebut akan ditebus dengan harta/nyawa.

11. Semua benteng yang ada di sepanjang pantai yang berada di Makassar harus dihancurkan, seperti benteng Pa’nakukkang, Marisso, Barombong, Garassi, dan juga Boro’boso.

Satu-satunya benteng yang boleh berdiri saat itu hanyalah Somba Opu karena akan ditempati oleh raja.

12. Benteng Ujung Pandang juga harus diberikan pada kompeni dan juga dengan tanah dan desanya yang saat itu menjadi bagian dari wilayahnya.

Pelanggaran dan Hikmah Perjanjian

Selain dampak, latar belakang dan isi perjanjiannya ketahui juga pelanggaran perjanjian dan hikmah dibalik itu semua sebagai berikut:

1. Pelanggaran Perjanjian

Sultan Hasanudin tidak terima dengan isi perjanjian sehingga dengan sisa-sisa kekuatannya ia melakukan perlawanan kembali. Namun perlawanan ini melanggar perjanjian yang sudah disepakati.

Benteng yang sudah dirubuhkan karena adanya perjanjian dibangun secara diam-diam olehnya.

Tapi usaha yang dilakukan Sultan Hasanudin diketahui juga oleh VOC sehingga mereka meruntuhkan benteng serta menangkap Hasanudin. Ia dipaksa turun tahta dari kesultanannya dan harus meninggal pada usia 39 tahun.

2. Hikmah Perjanjian Bongaya

Walaupun diawali dengan adu domba yang dilakukan oleh VOC, tetapi perjanjian ini juga memberi keuntungan bagi Bangsa Indonesia.

Perjanjian tersebut menjadi cikal bakal munculnya periode sejarah yang penting untuk dinamika perantauan bagi orang-orang keturunan Bugis-Makassar.

Perpindahan para bangsawan Makassar keluar daerah karena adanya perjanjian, akhirnya melahirkan perubahan yang revolusioner di dalam organisasi politik yang berada di bagian timur wilayah Indonesia.

Mereka juga mulai berakulturasi dengan budaya setempat, dari perkawinan campuran. Ditambah lagi dengan terbukanya dinamika ekonomi yang baru saat itu. Selain itu, mereka pun ikut berpartisipasi di dalam kejadian politik lokal.

Penjelasan mengenai Perjanjian Bongaya dan hal-hal yang mendasarinya di atas, bisa menjadi pengetahuan baru bagi Anda dalam cerita sejarah Indonesia terkait perjanjian antara Indonesia dengan Belanda di masa lampau.