12 Pakaian Adat Jawa Tengah Warisan Budaya Penuh Makna

Pakaian Adat Jawa Tengah
image by: museumnusantara.com

Waktuku.com – Pakaian adat Jawa Tengah adalah salah satu hasil dari akulturasi budaya yang sekilas mirip dengan baju adat dari Jawa Timur. Penduduk Jawa Tengah mayoritas berasal dari Suku Jawa dan ada beberapa suku lain yang juga ikut menetap di sana.

Seperti Suku Minangkabau, Dayak, Batak, Sunda, Melayu, Madura, Bugis, dan sebagainya. Sedangkan untuk kaum pendatang lebih banyak berasal dari Tionghoa. Keberagaman suku membuat Jawa Tengah memiliki banyak warisan budaya salah satunya adalah baju adat.

Pakaian Adat Jawa Tengah

Sampai saat ini Jawa Tengah adalah provinsi yang masih menjaga warisan budaya seperti pakaian adat. Contohnya adalah penggunaan kain batik di seluruh wilayah Indonesia. Lalu, apa saja baju adat wilayah Jawa Tengah yang lainnya?

1. Jawi Jangkep

Jawi Jangkep
image by: pariwisataindonesia.id

Jawi Jangkep adalah salah satu nama pakaian adat Jawa Tengah. Jawi Jangkep merupakan baju adat resmi yang digunakan oleh laki-laki dan terdiri dari baju beskap sebagai atasan dengan motif bunga. Jawi Jangkep biasa digunakan untuk pernikahan. Bawahan yang cocok untuk Jawi Jangkep adalah kain jarik.

Kain jarik tersebut digunakan dengan cara melilitkannya ke bagian pinggang. Aksesoris yang ditambahkan berupa blangkon sebagai penutup kepala dan menyelipkan senjata tradisional keris di bagian belakangnya. Sedangkan alas kakinya menggunakan selop serta mengalungkan bunga melati.

2. Kanigaran

Kanigaran
image by: hipwee.com

Kanigaran merupakan pakaian yang dulunya hanya digunakan oleh para bangsawan. Akan tetapi, saat ini Kanigaran juga bisa digunakan untuk acara pernikahan. Kanigaran untuk pria memiliki ciri khas yaitu penggunaan singkok memanjang ke atas.

Bagian atas dari Kanigaran terbuat dari bahan beludru hitam dengan efek mengkilap yang membuatnya tampak elegan. Bawahannya menggunakan Kampuh atau Dodotan, Dodotan berbeda dengan kain jarik. Perbedaannya terletak pada cara menggunakannya.

Jika Dodotan tidak hanya dililitkan ke pinggang tetapi juga disampirkan ke tangan. Sedangkan bagian belakang dari pakaian adat Jawa Tengah yang satu ini disisakan dan disampirkan ke lengan.

3. Basahan

Basahan
image by: tumpi.id

Pakaian adat ketiga bernama Basahan yang merupakan baju adat tradisional untuk acara pernikahan. Basahan merupakan pakaian adat yang mirip dengan budaya Mataram. Basahan merujuk pada dandanan khusus untuk keluarga kerajaan Yogyakarta.

4. Jarik

Jarik
image by: kumparan.com

Kain Jarik ini ternyata khas Jawa Tengah yang menggunakan corak batik. Jarik sendiri memiliki makna tingkatan hidup. Zaman dulu Kain Jarik digunakan oleh perempuan dan laki-laki untuk kegiatan sehari-hari akan tetapi sekarang hanya digunakan oleh orang tua saja untuk kegiatan tertentu.

5. Kemben

Kemben
image by: cleanipedia.com

Pakaian adat Jawa Tengah yang berikutnya adalah Kemben. Kemben merupakan pelengkap pakaian yang digunakan untuk menutup dada perempuan. Cara menggunakannya adalah dengan melilitkannya hingga ke pinggul.

Akan tetapi, saat ini kemben sudah jadi banyak yang menggunakan resleting atau kancing.

6. Tapih Pinjung

Keunikan pakaian adat Jawa Tengah yang berikutnya terdapat pada Tapih Pinjung. Tapih Pinjung sendiri merupakan kain yang cara menggunakannya dililitkan ke kiri dan kanan dari perut hingga pinggang. Tapih Pinjung merupakan kain yang memiliki motif batik.

Biasanya, penggunaan Tapih Pinjung bersamaan dengan stagen agar tidak terlihat dari luar. Tapih Pinjung adalah kelengkapan baju adat yang saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Jawa Tengah.

7. Kuluk

Kuluk merupakan pelengkap baju adat yang cara memakainya sama dengan blangkon. Kuluk merupakan penutup kepala yang biasanya dipakai pria ketika acara pernikahan. Sedangkan zaman dulu Kuluk ini hanya digunakan oleh raja saja.

8. Batik Jawa Tengah

Pakaian adat Jawa Tengah yang paling khas adalah kain batik. Batik merupakan ikon budaya dari suku Jawa yang masih dilestarikan sampai saat ini. Berdasarkan catatan sejarah, batik pertama kali dibuat di Solo pada tahun 1568 kemudian tersebar ke kota-kota lainnya.

Batik dari Jawa Tengah memiliki beragam jenis yang ada maknanya masing-masing. Pertama adalah Batik Sido Wirasat yang digunakan pada acara pernikahan khusus untuk orangtua pengantin. Maknanya adalah diharapkan orang tua bisa memberikan nasihat yang baik untuk kehidupan pernikahan.

Kedua ada Batik Grageh Wuluh yang bisa digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Adapun filosofinya adalah agar pemakai selalu hidup dengan penuh cita-cita dan impian serta selalu semangat dalam menjalankan hari. Batik ketiga adalah Batik Kawung yang berasal dari Yogyakarta.

Batik Kawung hanya digunakan oleh para bangsawan dan keluarganya yang menggambarkan keperkasaan dan kemegahan. Motif batik keempat adalah Batik Parang Kusumo yang juga digunakan oleh kaum bangsawan baik pria maupun perempuan.

Bagi pemakai Batik Parang Kusumo diharapkan agar si pemakai bisa mendapatkan keluhuran, dijauhkan dari hal buruk dan mendapatkan kedudukan. Batik kelima adalah Batik Truntum yang juga berasal dari Yogyakarta. Batik Truntum ini memiliki makna menuntun calon pengantin ke kehidupan pernikahan.

9. Kebaya Jawa Tengah

Pakaian adat dari Jawa Tengah yang berikutnya adalah kebaya. Sebenarnya, kebaya tidak hanya digunakan oleh Suku Jawa saja melainkan juga dari suku-suku lainnya akan tetapi memiliki detail yang berbeda-beda.

Kebaya Jawa Tengah biasanya digunakan untuk acara pernikahan dan terbuat dari bahan beludru serta sutra brokat. Adapun kebaya yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari adalah kebaya dari bahan nilon atau katun.

Adapun kelengkapan dari kebaya Jawa Tengah adalah di bagian dadanya ada Tapih Pinjung dan menggunakan stagen sebagai pengencang perut. Adapun bawahannya menggunakan kain jarik khas Jawa Tengah.

Tatanan rambutnya biasanya berbentuk konde yang rapi dan ada hiasan bunga melati di bagian atasnya. Perempuan Jawa Tengah juga kerap menggunakan perhiasan berupa gelang, cincin atau subang dan tidak lupa membawa kipas.

10. Surjan

Pakaian adat Jawa Tengah yang berikutnya adalah Surjan. Surjan merupakan pakaian yang dulunya hanya digunakan oleh anggota kerajaan baik bangsawan atau abdi dalam. Model dari Surjan sama dengan beskap akan tetapi warnanya lebih beragam.

Surjan juga dilengkapi dengan motif seperti bunga-bunga atau lurik. Kain yang digunakan untuk membuat Surjan lebih tipis dari Baju Kanigaran.

11. Beskap

Beskap adalah baju adat untuk masyarakat laki-laki di Jawa Tengah. Beskap adalah bagian atas dari pakaian Jawi Jangkep. Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan Beskap dan Jawi Jangkep dibedakan.

Beskap memiliki warna yang bervariasi dan warna umumnya adalah hitam atau polos. Beskap adalah pakaian dengan kerah tanpa lipatan yang memiliki keunikan di bagian depannya. Bagian depannya terdapat potongan miring untuk tempat senjata tradisional keris.

Pakaian adat Jawa Tengah ini juga dilengkapi dengan kancing yang menyamping. Ada jenis 4 jenis Beskap yang terdapat di Jawa Tengah. Pertama adalah Beskap Gaya Solo untuk Keraton Kasunanan dan kedua yaitu Beskap Gaya Jogja untuk Keraton Yogyakarta.

Ada juga Beskap Gaya Kulon yang berasal dari Purwokerto, Banyumas, dan Tegal. Sedangkan Beskap terakhir adalah Beskap Landung yang bagian depannya tampak lebih panjang.

12. Stagen

Terakhir adalah stagen sebagai pelengkap pakaian khas Jawa Tengah untuk pengencang pinggang dan perut. Stagen kini sulit ditemukan dan hanya dimiliki oleh orang-orang tua zaman dulu.

Pakaian adat Jawa Tengah yang sangat beragam lengkap dengan aksesorisnya membuktikan bahwa warisan budaya Jawa Tengah masih dilestarikan sampai saat ini. Dulunya, beberapa pakaian adat tersebut hanya digunakan oleh kaum bangsawan saja.