9 Pakaian Adat Betawi Hasil Akulturasi Budaya dan Penjelasannya

Pakaian Adat Betawi
image by: cleanipedia.com

Waktuku.com – Pakaian adat Betawi sering Anda lihat ketika mengunjungi Kota Jakarta. Suku Betawi yang tinggal di Bogor, Jakarta dan sekitarnya ini terbentuk dari perkawinan antar etnis yang ada di Indonesia. Umumnya Suku Betawi adalah penduduk yang berasal dari Batavia di masa kolonial dulu.

Ketika masa penjajahan Belanda banyak orang yang datang dan melakukan perkawinan dengan orang setempat.

Pendatang yang datang berasal dari Jawa, Bali, Bugis, Sunda, Ambon, Makassar dan sebagainya. Hasil akulturasi budaya tersebut yang membentuk adanya pakaian adat dari Suku Betawi.

Pakaian Adat Betawi

Selain pendatang dari Indonesia, di Batavia dulu juga ada banyak pendatang dari negara lain seperti Tionghoa, India, Belanda, Arab dan Portugis.

Percampuran itulah yang membentuk ciri khas dari masyarakat Betawi. Hal ini juga terlihat dari tradisi, kesenian serta pakaian adatnya.

1. Baju Sadaria

Baju Sadaria
image by: harapanrakyat.com

Pakaian adat Betawi asli yang pertama adalah Baju Sadaria. Baju Sadaria ini sering digunakan oleh masyarakat laki-laki dan cocoknya dipadukan dengan celana batik panjang dan longgar. Akan tetapi tidak sedikit yang menggunakan celana pantalon.

Baju Sadaria ini terbuat dari bahan sutra dan katun dengan model kerah lebar 3 sampai 4 cm. Selain itu Baju Sadaria juga ditambah dengan kancing dari atas sampai bawah dengan dua buah kantong di bagian kanan dan kirinya.

Terkadang ada juga yang menambahkan belahan di bagian kiri kanan agar merasa lebih bebas ketika digunakan.

Adapun panjang belahannya biasanya dibuat kurang lebih 15 cm. Sekarang Baju Sadaria lebih beragam ada yang membuat bordiran di bagian kerah, kanan kiri atau pada bagian tengahnya.

Sedangkan untuk bahan pembuatannya juga bermacam-macam seperti sutera alam, katun atau linen.

Pelengkap Baju Sadaria adalah kain sarung yang terlipat serta disampirkan ke bahu (disebut dengan cukin) serta memakai peci berwarna hitam polos. Alas kaki yang digunakan bernama selop terompah.

Ada juga yang menambahkan aksesoris seperti gelang bahar dan cincin bebatuan khas Suku Betawi.

Awalnya Baju Sadaria digunakan untuk aktivitas sehari-hari akan tetapi sekarang digunakan untuk berbagai acara. Baju Sadaria mencerminkan laki-laki yang berwibawa, dinamis, sopan dan rendah hati.

2. Celana Kain Bermotif Batik

Celana Kain Bermotif Batik
image by: shopee.co.id

Salah satu bagian dari pakaian adat Betawi adalah celana kain dengan motif batik. Celana ini hanya digunakan untuk laki-laki saja dan cocok sekali apabila dipasangkan dengan Baju Sadaria.

Bentuk dari celana batik ini seperti celana kolor dengan panjang selutut serta telah dilengkapi dengan karet pinggang.

Mulai dari dulu sampai sekarang, celana batik ini lebih sering digunakan oleh pria untuk kegiatan sehari-hari. Jadi celana batik ini lebih sering digunakan dalam waktu santai.

3. Aksesoris Berupa Ikat Pinggang dan Kopiah

Aksesoris Berupa Ikat Pinggang dan Kopiah
image by: cerdika.com

Hal yang identik dari Suku Betawi adalah menggunakan kopiah dan ikat pinggang sebagai aksesoris.

Dengan memakai dua aksesoris ini maka semakin menambah kesan Betawi-nya. Dalam sehari-hari juga laki-laki Betawi lebih sering menggunakan kopiah dan ikat pinggang.

Adapun warna peci atau kopiah yang sering digunakan biasanya hitam atau merah. Sedangkan bahan pembuatan kopiahnya adalah dari beludru. Ketika Anda mengunjungi Suku Betawi pasti sering melihat laki-laki berkopiah.

4. Pakaian Pengantin dari Wanita dan Pria

Pakaian Pengantin dari Wanita dan Pria
image by: karyapemuda.com

Pakaian adat Betawi yang berikutnya ini sering digunakan oleh pasangan pengantin. Tentu saja pakaian pengantin ini tidak bisa dipakai sembarangan karena masyarakat Betawi sendiri masih memegang teguh nilai tradisi dan budaya dalam pakaian adatnya. Oleh karena itu ada pakaian khusus pernikahan.

Pengantin perempuan menggunakan rias besar dandanan care none pengantin cine. Maksudnya adalah rok panjang dengan model duyung dan blus model Cina. Sedangkan untuk pengantin prianya menggunakan pakaian bernama dandanan care haji.

Dandanan care haji terdiri dari penutup kepala dengan warna merah dan jubah panjang. Biasanya warna yang digunakan pasangan pengantin itu sama.

5. Ujung Serong untuk Pakaian Bangsawan

Ujung Serong untuk Pakaian Bangsawan
image by: sintesakonveksi.com

Contoh nama pakaian adat Betawi yang khusus digunakan oleh bangsawan adalah Ujung Serong. Ujung Serong memang dulunya lebih sering digunakan oleh kaum bangsawan akan tetapi sekarang dipakai oleh pejabat dari Provinsi DKI Jakarta. Ujung Serong digunakan oleh kegiatan-kegiatan resmi tertentu.

Ujung Serong adalah pakaian berupa kemeja berwarna putih, jas berwarna gelap dan kain batik. Biasanya bawahan yang digunakan celana berwarna senada dengan jas.

6. Sorban atau Selendang

Sorban atau selendang merupakan ciri khas dari Suku Betawi khususnya digunakan oleh laki-laki. Sorban tersebut berupa sarung yang dilipat dan disampirkan ke pundak atau leher. Sorban tersebut merupakan salah satu aksesoris tambahan ketika menggunakan pakaian adat Betawi DKI Jakarta.

7. Pangsi Betawi

Pakaian adat berikutnya yang sering digunakan oleh masyarakat Betawi adalah Pangsi Betawi. Pangsi Betawi berciri-ciri memiliki leher baju berbentuk bundar dan berlengan panjang. Zaman dulu Pangsi Betawi sering digunakan oleh kaum-kaum kecil saja tetapi sekarang digunakan untuk pakaian pesilat Betawi.

8. Kebaya Encim

Kebaya Encim adalah pakaian adat yang dirancang untuk perempuan Betawi. Nama lain dari Kebaya Encim disebut dengan Kebaya Kerancang yang masih digemari oleh kaum perempuan Betawi.

Umumnya digunakan oleh perempuan yang setengah baya tetapi sekarang digunakan oleh perempuan berbagai usia.

Pakaian adat Betawi ini menurut sejarah dikombinasikan dengan bahan lace atau brokat asal Eropa yang ditutup dengan bordir sehingga pakaian ini tampak langsung bordirannya. Ada banyak variasi bordiran yang digunakan dalam Kebaya Encim.

Zaman dulu, Kebaya Encim lebih sering digunakan oleh masyarakat Tionghoa yang hidup di Indonesia.

Kebaya Encim juga digunakan oleh orang-orang kalangan atas. Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman digunakan juga oleh masyarakat pribumi.

Kebaya Encim berasal dari proses akulturasi tiga budaya yaitu Arab, Jawa dan Tionghoa. Hal ini bisa terlihat dari motif bunga dan burung phoenix yang berasal dari Tionghoa. Kebaya Encim ini bentuknya agak pendek dan meruncing di bagian depannya.

Ada juga yang menyebut dengan Kebaya Sonday di mana bagian lengan bawahnya melebar atau melingkar dengan diameter 20 sampai 35 cm. Ternyata Kebaya Encim juga dikenal dengan sebutan kebaya model goeng.

Pakaian adat Betawi dengan tangan goeng sebenarnya lebih mirip dengan pakaian orang zaman dulu akan tetapi sekarang banyak diminati dari berbagai kalangan. Kebaya Encim sekarang juga sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar terlihat lebih modern.

Adapun untuk bahan pembuatannya bisa menggunakan silk, organdi, sutra alam, brokat dan sebagainya.

Remaja putri banyak yang menggunakan kebaya dengan perpaduan celana panjang atau rok panjang, tidak seperti lazimnya menggunakan kain sarung.

Pakaian dari Betawi ini juga cocok dipadukan dengan kain batik untuk bawahannya. Agar mempercantik penampilan, perempuan Betawi biasanya menggunakan sandal selop dan rambut konde yang dicepol sehingga penampilannya semakin sempurna.

9. Peci atau Kopiah

Aksesoris terakhir sebagai pelengkap dari pakaian khas Suku Betawi adalah peci atau kopiah.

Peci atau kopiah merupakan penutup kepala yang terbuat dari bahan beludru. Warna yang umum digunakan adalah merah atau hitam.

Pakaian adat Betawi memang lebih sederhana tampilannya dibanding dengan pakaian adat daerah lainnya yang terkesan mewah.

Penambahan aksesoris juga tidak berlebihan sehingga khas Betawinya masih sangat terasa.