4 Pakaian Adat Banten, Sederhana Dan Penuh Makna

pakaian adat Banten
Images by: Pinhome

Waktuku.com – Banten merupakan salah satu daerah yang merupakan pecahan dari wilayah Jawa Barat.

Beberapa kebudayaan yang dimilikinya pun tidak terlepas dari Provinsi Jawa Barat, termasuk pakaian adat Banten.

Pakaian adat dari Banten sendiri berupa pakaian pengantin, Pangsi, hingga pakaian adat yang paling terkenal yakni yang dikenakan oleh suku Baduy.

Sejarah kebudayaan banten memang sejak dulu sudah tercampur dengan budaya sunda serta budaya-budaya lainnya.

Hal ini dikarenakan banyaknya pendatang dari luar Banten yang masuk ke Banten dengan menggunakan jalur laut. Meskipun begitu, Banten memiliki suku asli yang masih terkenal hingga saat ini yakni suku Baduy.

Suku Baduy atau yang memiliki sebutan lain Kanekes ini merupakan suku asli penghuni salah satu wilayah yang terletak di Kabupaten Lebak Banten.

Masyarakat suku Baduy hidup berdampingan dengan alam dengan mengikuti aturan adat yang sangat kuat serta jauh dari kehidupan modern.

Mengenal Pakaian Adat Banten

Pakaian Adat Banten Suku Baduy Dalam

Pakaian Adat Banten Suku Baduy Dalam
Images by: BBC

Berdasarkan informasi yang didapat dari Dinas Pariwisata Provinsi Banten, suku Baduy sendiri terbagi menjadi dua kelompok yakni suku Baduy Luar dan suku Baduy Dalam.

Suku Baduy dalam dan luar tentunya memiliki perbedaan terutama dalam hal pakaian sehari-hari yang menggunakan pakaian adat Banten.

Perbedaannya Pun dapat terlihat jelas dari warna pakaian yang dikenakan dimana suku Baduy Dalam mengenakan pakaian serta ikat kepala dengan warna yang serba putih, sedangkan untuk suku Baduy Luar mengenakan pakaian dengan warna hitam dan ikat kepala berwarna biru.

Pakaian Adat Kaum Laki-Laki Suku Baduy Dalam

Kaum laki-laki suku Baduy Dalam mengenakan pakaian adat Banten berupa atasan lengan panjang yang berwarna serba putih.

Karena berwarna putih serta cara memakainya yang hanya disangsangkan atau dipakai di badan membuat baju yang satu ini disebut jamang sangsang.

Pakaian adat Banten khas suku Baduy dalam memiliki desain yang sangat sederhana. Pakaian tersebut hanya memiliki lubang pada bagian leher hingga dada, tanpa memakai kerah, serta tidak juga memakai kancing, dan tidak terdapat kantong baju.

Pembuatan Pakaian adat suku Baduy dalam pun wajib dibuat dengan menggunakan tangan langsung, tidak diperkenankan untuk dijahit menggunakan bantuan mesin. Selain itu, bahan dasar yang digunakan pun harus terbuat dari material kapas asli yang ditenun.

Pakaian adat Baduy dalam untuk pria umumnya dipadukan dengan bawahan berupa kain serupa sarung dengan biru kehitam-hitaman yang dikenakan dengan cara dililitkan pada pinggang.

Agar lilitan kuat dan tidak lepas, sarung akan diikat dengan selembar kain. Sebagai informasi, suku Baduy dalam tidak mengenakan celana, karena hal tersebut dianggap barang tabu.

Untuk aksesorisnya, Kaum laki-laki suku Baduy dalam mengenakan ikat kepala yang berwarna putih. Ikat kepala tersebut memiliki fungsi sebagai penutup rambut yang panjang. Selain itu, pakaian adat ini juga dilengkapi dengan selendang yang digunakan di leher.

Pemilihan warna putih pada pakaian adat Banten suku Baduy dalam melambangkan kehidupan suku baduy dalam itu sendiri yang masih suci serta belum terpengaruh budaya luar.

Pakaian Adat Kaum Wanita Suku Baduy Dalam

Selain untuk kaum pria, Suku Baduy dalam juga memiliki pakaian adat Banten yang diperuntukan untuk kaum wanita yang berupa sarung. Sarung tersebut terkenal dengan nama samping hideung.

Samping hideung sendiri merupakan sarung yang berasal dari kain tenun berwarna hitam. Kain ini juga digunakan sebagai pakaian untuk kaum laki-laki dan kaum perempuan suku Baduy Dalam. Namun umumnya dikenakan oleh perempuan.

Karena suku Baduy Dalam tidak diperbolehkan untuk menggunakan pakaian dari luar membuat samping hideung menjadi satu-satunya pakaian untuk suku Baduy dalam.

Samping hideung yang digunakan sebagai pakaian adat tersebut memiliki desain yang dijahit pada kedua ujung sisi lebarnya diukur menggunakan tangan hingga menyerupai sarung.

Dengan desain yang seperti itu membuat yang mengenakannya mudah dalam melakukan aktivitas.

Pakaian Adat Banten Suku Baduy Luar

Pakaian Adat Kaum Laki-Laki Suku Baduy Luar

Jika dibanding dengan suku Baduy dalam, aturan dalam berpakaian suku Baduy Luar lebih longgar.

Berbeda dengan suku Baduy dalam yang tidak boleh mengenakan baju yang dijahit dengan mesin, Suku Baduy luar mengenakan pakaian adat Banten yang sudah dijahit menggunakan mesin.

Perbedaan tersebut menunjukan budaya suku Baduy luar sudah terpengaruh dengan budaya luar. Pakaian adat dari Banten khas suku Baduy Luar untuk kaum laki-laki menggunakan warna hitam.

Dengan warnanya yang hitam tersebut, baju adat khas suku Baduy luar ini dikenal dengan sebutan baju kampret atau kelelawar.

Baju kampret biasanya dikenakan oleh laki-laki yang dilengkapi dengan ikat kepala yang berwarna biru tua dengan motif batik.

Desain bajunya pun terbelah dua hingga ke bawah, layaknya pakaian yang dikenakan masyarakat umum, baju khas suku Baduy luar sudah dilengkapi dengan kantong serta kancing.

Saat bepergian keluar Baduy, umumnya lelaki selalu membawa senjata berupa golok yang biasanya disematkan di pinggang, serta tas rajutan hasil kerajinan tangan yang dikenakan di pundak.

Pakaian Adat Kaum Wanita Suku Baduy Luar

Sedangkan untuk Wanita Baduy Luar mengenakan pakaian serupa sarung dengan warna biru kehitam-hitaman yang dikenakan dari tumit hingga dada. Pakaian adat Banten yang satu ini digunakan oleh masyarakat Baduy untuk pakaian sehari-hari.

Selain itu pakaian adat Baduy luar memiliki perbedaan antara pakaian untuk wanita yang sudah menikah dan gadis. Wanita dengan status menikah, umumnya membiarkan bagian dadanya terbuka, sedangkan untuk para gadis bagian dadanya harus tertutup.

Pakaian Adat Banten Pangsi

Pangsi adalah salah satu pakaian adat Banten yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Sunda. Namun, saat ini banyak juga masyarakat Banten yang mengenakan pakaian adat pangsi untuk pakaian sehari-hari.

Pakaian adat dari Banten Pangsi berasal dari singkatan yakni Pangeusi Numpang ka Sisi yang memiliki arti pakaian penutup badan. Pakaian adat pangsi ini dikenakan dengan cara dililitkan seperti memakai sarung.

Baju pangsi juga terdiri dari tiga susunan yakni tangtung, nangtung, serta samping. Pakaian yang satu ini umumnya dikenakan oleh kaum pria.

Pakaian Adat Banten Modern

Pakaian pengantin adat Banten terdiri dari pakaian adat pria yang dilengkapi dengan aksesoris seperti penutup kepala, kain samping, ikat pinggang hingga selop.

Sedangkan untuk pengantin wanita menggunakan kebaya dengan hiasan kepala kembang goyang, rangkaian bunga melati, selendang, busana bawahan, serta selop.

Untuk pakaian adat Banten modern juga dilengkapi dengan tambahan aksesoris-aksesoris lainya yang bertujuan untuk mempercantik tampilan.

Nah, itu dia penjelasan mengenai pakaian adat Banten yang lengkap mulai dari pakaian adat khas suku Baduy dalam, suku Baduy luar, Pangsi, hingga pakaian adat Banten yang modern.

Dengan beragamnya kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia, semoga dapat membuat semua masyarakat sadar akan pentingnya melestarikan budaya yang dimiliki terutama pakaian adat yang eksistensinya semakin memudar.