10 Pakaian Adat Aceh Perempuan dan Pria, Kaya Akan Makna

Pakaian Adat Aceh
image by: popbela.com

Waktuku.com – Pakaian adat Aceh menjadi simbol budaya dari kota yang dijuluki Serambi Mekah. Pakaian adat umumnya memiliki filosofi dibaliknya dan tidak terkecuali pakaian dari Kota Aceh ini.

Pakaian dari Aceh biasanya digunakan untuk kegiatan pertunjukan adat, acara penyambutan atau upacara adat.

Aceh memiliki beragam pakaian dengan keunikannya masing-masing. Ingin tahu lebih lanjut? Anda bisa simak ulasan berikut.

Pakaian Adat Aceh

Aceh berada di dekat Selat Malaka yang menjadikannya tempat singgah pada penyebar agama dan pedagang dari Timur Tengah. Akulturasi budaya pun terjadi yang meninggalkan banyak warisan budaya seperti baju adat.

Unsur keislaman dalam pakaian adat dari Kota Serambi Mekah ini masih melekat dalam kehidupan sehari-hari yang pakaian adatnya mengikuti syariat Islam. Baju adat dari Aceh itu juga menggambarkan status sosial seseorang.

Celana Sileuweu

Celana Sileuweu
image by: popmama.com

Celana Sileuweu adalah salah satu bagian dari pakaian adat Aceh. Celana Sileuweu dengan warna hitam ini biasanya digunakan oleh pria Aceh. Sileuweu dalam bahasa Aceh disebut dengan kain katun, jadi bahannya terbuat dari katun.

Beberapa masyarakat juga menyebutnya dengan sebutan Cekak Musang. Celana Sileuweu adalah celana khas Suku Melayu yang tinggal di Aceh dan cocok dilengkapi dengan sarung songket berbahan sutra. Nama lainnya adalah Lamjaja Lamgugap Ija Krong.

Lamjaja Lamgugap Ija Krong memiliki arti kain songket yang diikat di pinggang sepanjang lutut atau sekitar 10 cm di atas lutut.

Rencong

Rencong
image by: wikimedia.org

Rencong adalah pelengkap pakaian adat yang merupakan senjata tradisional khas Aceh. Sama seperti daerah lainnya yang ketika menggunakan pakaian adat pasti dilengkapi dengan senjata tradisional. Rencong biasanya diselipkan pada bagian pinggang.

Cara meletakkannya adalah bagian kepala atau gagang Rencong menjulur keluar. Sebagai pelengkap pakaian adat Aceh, Rencong memiliki filosofi yaitu ketangguhan, keberanian dan identitas masyarakat Aceh. Oleh karena itu bagi pria yang menggunakannya akan tampak gagah.

Cekak Musang Perempuan

Cekak Musang Perempuan adalah bawahan dari pakaian adat perempuan Aceh. Cekak Musang ini sebenarnya juga digunakan oleh pria Aceh. Cekak Musang ini berupa celana panjang yang juga dipadukan dengan gulungan sarung sepanjang lutut.

Cekak Musang biasanya digunakan oleh pengantin atau para penari Saman, Aceh memang terkenal dengan Tari Saman.

Cekak Musang memiliki warna yang beragam, jika digunakan untuk pengantin maka warnanya serasi. Warna umumnya adalah warna emas yang terbuat dari bahan sutra.

Perhiasan

Biasanya pakaian adat Aceh asli juga dilengkapi dengan penggunaan perhiasan. Biasanya bagian kepala dan tubuh lainnya menggunakan perhiasan berupa gelang, anting, kalung dan mahkota keemasan. Perhiasan ini akan membuat penampilan perempuan Aceh tampak menawan.

Adanya perhiasan ini juga membuat tampilan pakaian menjadi lebih elegan dan mewah. Patham Dhoe adalah perhiasan yang diletakkan di kepala berupa emas sebesar 24 karat. Ada tambahan Serkonia putih sebanyak 5 buah yang beratnya 160 gram.

Sebagai pelengkap, perempuan Aceh juga kerap menggunakan Gleueng Goki atau gelang kaki yang terbuat dari bahan tembaga berlapiskan perak dan biasanya digunakan ketika pernikahan. Wah ternyata dari atas sampai bawah, perempuan Aceh menggunakan perhiasan.

Piring Dhoe

Piring Dhoe adalah salah satu kelengkapan dari pakaian adat perempuan Aceh. Piring Dhoe adalah perhiasan yang diletakkan di dahi perempuan, terbuat dari emas atau perak berlapis emas. Bentuknya persis seperti mahkota dan terbagi menjadi 3 bagian.

Ketiga bagian tersebut dihubungkan dengan menggunakan engsel. Perhiasan dari pakaian adat Aceh barat ini juga terdapat tulisan kaligrafi di bagian tengah dan ukiran motif kalimat Bungong. Motif terluarnya berupa titik-titik kecil dan bunga.

Subang Aceh

Beralih ke perhiasan lainnya bernama Subang Aceh. Subang Aceh memiliki diameter sepanjang 6 cm yang dibuat dari bahan permata dan emas. Subang Aceh berbentuk seperti bunga matahari dengan bagian kelopak yang runcing.

Keunikan dari Subang Aceh ini terdapat pada bagian lempengan atas karena bentuknya seperti bunga matahari maka disebut dengan “Sigeudo Subang.”

Untai Peuniti

Pakaian adat Aceh tidak lengkap tanpa Untai Peuniti. Untai Peuniti merupakan peniti emas yang terdapat 3 ragam hias. Peniti khas Aceh ini dibuat dengan pola pakis lalu kemudian dibentuk seperti kuncup bunga. Bagian tengahnya terdapat sebuah motif bernama boheungkot.

Boheungkot merupakan sebuah motif berupa titik-titik kecil membentuk telur ikan. Motif telur ikan ini terinspirasi dari rumah adat Aceh. Selain digunakan sebagai perhiasan perempuan, peniti emas ini juga digunakan untuk penyemat pakaian.

Keureusang

Keureusang merupakan bagian dari baju adat dari Aceh yang terdiri dari perhiasan, penutup kepala, Celana Cekak Musang dan Baju Kurung. Keureusang ini memiliki nama lain yaitu bros dengan lebar 7.5 cm dan panjang 10 cm.

Cara menggunakan keureusang pada pakaian adat Banda Aceh dengan menyematkannya di gaun perempuan. Keureusang bukan bros sembarangan, bros cantik ini terbuat dari berlian dan emas. Keureusang disematkan di bagian dada.

Patam Dhoe

Perhiasan lain yang juga digunakan oleh perempuan Aceh bernama Patam Dhoe. Patam Dhoe merupakan perhiasan berupa penutup kepala guna menutup kepala perempuan. Sesuai dengan namanya Serambi Mekah, pakaian perempuan Aceh akan menutup aurat perempuan.

Patam Dhoe ini adalah bunga segar yang disematkan di mahkota yang bagian tengahnya diukir dengan motif daun sulur.

Sisi lain dari Patam Dhoe diukir dengan motif Boengong Kalimah yang dikelilingi dengan bentuk bulat dan bunga.

Tidak hanya Patam Dhoe saja, akan tetapi ada beberapa perhiasan lain yang juga dikenakan yaitu gelang, tusuk sanggul anting dan kalung. Baju adat dari Kota Serambi Mekah ini memang tampak selalu mewah bukan?

Dara Baro

Dara Baro adalah sebutan dari pakaian adat Aceh yang digunakan oleh pengantin perempuan. Dara Baro merupakan pakaian dengan lengan panjang persis seperti Baju Kurung. Dara Baro juga memiliki motif sulaman benang emas dan kerah, persis seperti pakaian dari China.

Dara Baro adalah gaun panjang yang menutupi seluruh bentuk tubuh sampai pinggul. Tentu saja pakaian ini dibuat untuk menutupi aurat pengantin perempuan.

Terlihat dari bentuknya, Dara Baro merupakan pakaian hasil akulturasi budaya masyarakat Tionghoa, Arab dan Melayu.

Berbeda dengan pakaian pengantin pria yang terbuat dari warna gelap, Dara Baro perempuan menggunakan warna cerah seperti hijau, ungu, kuning, merah dan sebagainya.

Meukeutop

Pelengkap lainnya bernama Meukeutop yang merupakan hasil akulturasi dari budaya Islam di Aceh. Meukeutop merupakan sebuah penutup kepala atau disebut dengan Kupiah, bentuknya lonjong memanjang dengan tambahan lilitan tangkulok.

Lilitan tangkulok ini terbuat dari kain sutra dengan hiasan kuningan atau emas berbentuk bintang. Meukeutop terdiri dari 5 warna dengan maknanya masing-masing.

Putih melambangkan kesucian, hitam artinya ketegasan, hijau adalah agama Islam, kuning berarti kesultanan dan merah adalah kepahlawanan.

Baju Meukeusah

Baju Meukeusah
image by: orami.co.id

Terakhir adalah Baju Meukeusah yang terbuat dari bahan sutra dengan warna dasar hitam. Warna hitam dalam masyarakat Aceh berarti kebesaran yang melambangkan kebesaran budaya Aceh. Baju Meukeusah ini mirip baju dari Tionghoa.

Semua pakaian adat Aceh selalu diberi tambahan perhiasan yang mewah. Jadi ketika digunakan mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, pemakai akan terlihat elegan. Warna-warna yang digunakan juga tidak sembarangan karena memiliki maknanya masing-masing.