4 Pembahasan Ekosistem Sawah Dilengkapi Contoh

Ekosistem Sawah
image by: mediatani.co

Waktuku.com – Ekosistem sawah merupakan salah satu jenis ekosistem buatan. Perlu diketahui, ekosistem terbagi menjadi dua yaitu ekosistem alami dan buatan.

Ekosistem alami merupakan ekosistem yang pembentukannya diakibatkan pengaruh alam sekitar tanpa ada campur tangan manusia. Contohnya seperti sungai, gunung, dan laut.

Sedangkan ekosistem buatan adalah jenis ekosistem yang sengaja dibentuk oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya, seperti waduk, kolam, hingga sawah.

Sawah merupakan sebidang lahan subur dan berair yang digunakan manusia untuk menanam padi. Ekosistem yang satu ini banyak ditemukan di wilayah Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai ekosistem sawah beserta ciri-ciri hingga jenisnya? Simak ulasannya berikut ini.

Pembahasan Ekosistem Sawah

1. Pengertian Ekosistem Sawah

Pengertian Ekosistem Sawah
image by: suara.com

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sawah adalah tanah yang digarap dan dialiri air untuk tempat menanam padi.

Ekosistem sawah termasuk ke dalam ekosistem buatan karena pembentukannya disengaja oleh manusia agar kebutuhan mereka akan makanan dapat terpenuhi.

Sawah harus selalu digenangi air karena padi merupakan tanaman yang membutuhkan banyak air untuk dapat tumbuh dengan baik. Oleh karena itu harus terdapat sistem irigasi di persawahan.

Sumber air untuk sistem irigasi tersebut bisa berasal dari mata air, sungai, danau, dan lain sebagainya. Namun, ada pula sawah yang sumber airnya hanya dari air hujan saja.

Apabila kebutuhan air ini tidak dapat terpenuhi dengan baik, maka hasil dari sawah tersebut bisa menjadi tidak maksimal.

Ekosistem sawah biasanya berada di ketinggian antara 0-1500 meter di atas permukaan laut. Kondisi tanahnya pun biasanya memiliki tekstur yang berlumpur dan subur.

Ekosistem ini dapat tumbuh dengan baik di wilayah yang beriklim tropis yang memiliki kelembapan udara sekitar 200 mm/bulan.

2. Ciri-Ciri Ekosistem Sawah

Ciri-Ciri Ekosistem Sawah
image by: kompas.com

Terdapat beberapa hal yang menjadi ciri-ciri dari ekosistem sawah, di antaranya adalah:

– Ekosistem ini berada di daratan dan biasanya berlokasi di dataran tinggi.
– Memiliki area yang selalu digenangi oleh air sehingga teksturnya berlumpur.
– Umumnya ditumbuhi tanaman padi dan dipanen bergantung pada musimnya.
– Terdapat biota hidup yang telah beradaptasi dengan dataran tinggi atau pegunungan sekitar.
– Di dalamnya terdapat rantai makanan.

Komponen Ekosistem Sawah

Seperti jenis ekosistem lainnya, di dalam ekosistem sawah juga terdapat komponen-komponen penyusun. Komponen tersebut adalah komponen biotik dan abiotik.

Komponen biotik terdiri dari organisme hidup, sedangkan komponen abiotik merupakan benda-benda mati.

1. Komponen Biotik

Komponen Biotik
image by: bobo.grid.id

Komponen biotik yang terdapat di sawah cukup beragam. Contohnya seperti adanya belut, ular, tikus, serangga, ikan kecil dan masih banyak lagi.

Meskipun sawah adalah sebuah ekosistem buatan, namun keberadaan komponen biotik berupa hewan-hewan tersebut muncul secara alami.

Komponen biotik di ekosistem sawah pun dibagi lagi menjadi produsen, konsumen, dan pengurai.
Produsen adalah organisme yang memiliki kemampuan untuk memproduksi makanan, contohnya seperti padi ataupun tanaman lainnya.

Kemudian ada pula konsumen. Konsumen adalah organisme yang mengonsumsi makanan yang dibuat oleh produsen karena tidak dapat membuat makanan sendiri. Kelangsungan hidup konsumen bergantung pada keberadaan produsen.

Contoh dari konsumen adalah hewan herbivora yang memakan tanaman dan pemakan biji-bijian. Dalam rantai makanan, mereka disebut sebagai konsumen primer. Contoh konsumen primer seperti tikus, burung, dan lainnya.

Kemudian yang masih termasuk konsumen adalah hewan karnivora atau pemakan daging. Mereka dikategorikan sebagai konsumen sekunder. Contoh konsumen sekunder yang ada di ekosistem sawah adalah ular, katak, elang, dan sejenisnya.

Terakhir, adalah pengurai. Pengurai adalah organisme yang tugasnya menguraikan sisa-sisa organisme lain yang sudah mati.

Pengurai akan mengubah sisa-sisa organisme tersebut menjadi zat organik yang sangat baik untuk menjaga kesuburan tanah. Contoh pengurai adalah cacing, jamur, dan bakteri.

2. Komponen Abiotik

Komponen Abiotik
image by: travel.kompas.com

Selanjutnya adalah komponen abiotik yang terdiri dari berbagai benda mati seperti tanah, air, cahaya matahari, udara, hingga iklim.

Meski bersifat benda mati, namun kehadiran komponen abiotik dalam sebuah ekosistem memiliki pengaruh yang besar untuk kelangsungan ekosistem tersebut. Komponen ini membuat ekosistem dapat berlangsung dengan baik dan organisme di dalamnya dapat terjaga.

Jenis Ekosistem Sawah

1. Ekosistem Sawah Irigasi

Ini adalah jenis sawah di mana sumber pengairannya berasal dari sungai atau waduk terdekat, kemudian dibuatlah sistem irigasi yang akan mengalirkan air ke seluruh area persawahan.

Sistem tersebut digunakan dengan tujuan agar tidak perlu selalu mengandalkan air hujan untuk mengairi sawah. Sehingga meski sedang musim kemarau pun sawah dapat teraliri dengan baik.

2. Ekosistem Sawah Tadah Hujan

Selanjutnya adalah sawah tadah hujan yang mengandalkan air hujan untuk sistem pengairannya. Seperti namanya, sawah jenis ini hanya ditanami padi jika musim penghujan tiba. Sedangkan saat musim kemarau dibiarkan begitu saja.

Sistem ini membuat sawah tadah hujan memiliki tingkat produktivitas yang rendah dibandingkan dengan jenis sawah yang lain. Sawah ini pun biasanya hanya panen satu kali dalam setahun.

Berbeda dengan jenis sawah lainnya yang lebih produktif dan bisa panen hingga 3 kali dalam waktu satu tahun

3. Ekosistem Sawah Pasang Surut

Sawah pasang surut merupakan sawah yang dibuat di dekat sungai, rawa, maupun pantai. Sawah ini bergantung pada debit air untuk irigasi.

Saat debit air sedang banyak, maka air yang tidak tertahan akan meluap dan dengan sendirinya mengairi area persawahan.

Karena dibuat di area dekat pantai, maka tumbuhan yang ditanam di sawah jenis ini haruslah tahan terhadap kandungan garam. Karena jika tidak tahan, maka apa yang ditanam akan cepat mati dan tidak bisa dipanen sehingga menyebabkan kerugian.

Ekosistem yang satu ini dapat ditemukan di daerah pantai utara Jawa, pantai timur Sumatera, dan Kalimantan bagian barat.

4. Ekosistem Sawah Lebak

Sawah yang satu ini merupakan jenis sawah yang dibuat di antara dua buah sungai yang besar. Sawah lebak menggunakan sistem irigasi denagn memanfaatkan aliran air dari kedua sungai besar tersebut.

Karena letaknya di tengah dua sungai, ketika musim kemarau tiba para petani tetap dapat membuat sawah menjadi produktif karena tak perlu menunggu hujan datang untuk dapat mengairi sawah.

Karena debit air sungai sudah cukup untuk mengairi sawah tersebut. Justru para petani akan khawatir jika musim penghujan tiba, karena ada potensi debit sungai menjadi terlalu tinggi dan menyebabkan sawah terendam banjir.

Namun masalah tersebut bisa diatasi dengan membangun sistem irigasi yang baik. Dengan sistem irigasi ang tepat, jenis sawah lebak akan sangat menguntungkan petani karena dapat menekan biaya saat masa cocok tanam.

Contoh dari ekosistem sawah lebak bisa kita temukan di area sekitar Sungai Musi dan Sungai Ogan di Sumatera.

5. Ekosistem Sawah Bencah

Terakhir, adalah ekosistem sawah bencah. Ini adalah sawah yang sistem cocok tanamnya menggunakan lahan basah seperti area rawa maupun sungai yang sudah disurutkan terlebih dahulu airnya.

Meski begitu, saat ini jenis sawah bencah sudah jarang ditemukan karena memiliki resiko yang mirip seperti sawah lebak, yaitu rawan terhadap banjir.