3 Pembahasan Ekosistem Laut: Wajib Tahu Ciri-Ciri Hingga Jenisnya

Ekosistem Laut
image by: liputan6.com

Waktuku.com – Ekosistem laut terdiri dari keseluruhan unsur lingkungan hidup yang terdapat di perairan laut. Ada berbagai jenis ekosistem yang bisa ditemui di kawasan laut, dan masing-masing memiliki ciri tersendiri.

Dalam ekosistem laut terdapat interaksi atau hubungan timbal balik antara seluruh organisme makhluk hidup yang ada di dalamnya dengan lingkungan sekitarnya.

Ekosistem sendiri memiliki tiga pengertian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Pertama, ekosistem diartikan sebagai keanekaragaman dari sebuah komunitas dan lingkungannya, dan berfungsi sebagai satuan ekologi di alam.

Kedua, ekosistem merupakan suatu komunitas organik yang terdiri dari tumbuhan dan hewan serta habitat mereka.

Ketiga, ekosistem marupakan keadaan khusus yang menjadi tempat berinteraksinya komunitas organisme hidup dengan organisme tidak hidup dalam suatu lingkungan.

Ekosistem yang paling sering dijumpai adalah ekosistem daratan dan juga perairan, salah satunya ialah ekosistem laut. Ekosistem laut memiliki ciri-ciri, jenis, dan pembagian zonanya tersendiri.

Ciri-Ciri Ekosistem Laut

Ciri-Ciri Ekosistem Laut
image by: caragigih.id

Ada beberapa ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh ekosistem laut. Ciri-ciri inilah yang menjadi pembeda antara ekosistem laut dengan ekosistem lainnya, di antaranya:

1. Tingkat Salinitas Tinggi

Ciri yang pertama adalah ekosistem ini memiliki tingkat salinitas yang tinggi. Tingkat salinitas adalah tingkat keasinan atau tingkat kadar garam yang larut dalam air.

Semakin mendekati khatulistiwa, maka salinitas semakin tinggi. Ekosistem ini juga didominasi oleh kadar NaCl yang tinggi hingga mencapai 75 persen.

2. Variasi Suhu

Ekosistem laut juga memiliki variasi suhu atau perbedaan suhu. Perbedaan tersebut terletak antara bagian permukaan laut dengan bagian laut yang dalam.

3. Tahan Iklim dan Cuaca

Ekosistem yang satu ini diketahui memiliki tingkat ketahanan yang baik terhadap perubahan iklim dan cuaca. Sehingga apa yang ada di dalam ekosistem ini tak mudah berubah meski terpapar iklim dan cuaca yang tidak stabil.

Jenis-Jenis Ekosistem Laut

Jenis-Jenis Ekosistem Laut
image by: bantennews.co.id

Ada setidaknya empat jenis ekosistem yang terdapat di perairan laut menurut penjelasan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten pada laman resminya. Empat jenis ekosistem itu adalah sebagai berikut.

1. Ekosistem Estuaria

Estuaria kerap dikenal dengan wilayah pesisir semi tertutup yang memiliki hubungan bebas dengan laut terbuka. Sebaguan besar estuari didominasi oleh endapan yang dibawa oleh air tawar dan air laut yang disebut substrat berlumpur.

Estuaria memilik karakteristik geomorfolgi yang dikelompokkan menjadi estuari daratan pesisir, di mana ia terbentuk karna adanya kenaikan permukaan laut yang menggenangi sungai di bawah pantai yang landai.

Salah satu contohnya adalah laguna atau sebuah teluk semi tertutup yang terbentuk oleh pasir yang letaknya sejajar dengan garis pantai, sehingga menghalangi interaksi langsung dan terbuka dengan perairan laut.

2. Ekosistem Mangrove

Ekosistem mangrove sering juga disebut dengan hutan mangrove, adalah sebuah kumpulan vegetasi pantai tropis dan juga subtropis dan didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove.

Pohon mangrove tersebut dapat tumbuh dan berkembang di daerah yang terkena pasang dan surut pentai berlumpur. Hal ini karena mangrove bergantung pada air pasang dan air tawar sebagai sumber makanannya.

Pertumbuhan mangrove juga bergantung pada endapan debu dari erosi yang tejadi di area hulu sebagai pendukung substratnya.

Mangrove memiliki beberapa fungsi, di antaranya adalah sebagai peredam gelombang dan badai dari laut, melindungi daratan dari abrasi, penahan lumpur hingga penangkap sedimen.

Tanaman ini juga merupakan penghasil sejumlah besar detritus yang berasal dari daun dan dahannya, dapat menjadi daerah pemisahan berbagai jenis ikan, udang serta biota laut lainnya, serta menjadi tujuan wisata alam.

3. Ekosistem Padang Lamun

Lamun adalah nama lain dari rumput laut yang juga disebut seagrass. Lamun berbeda dengan rumput laut jenis seaweed yang merupakan anggota dari kelompok vegetasi berjenis alga atau ganggang.

Seaweed biasanya ditemui di perairan yang berhubungan dengan keberadaan ekosistem terumbu karang.

Sedangkan lamun adalah sekenis tumbuhan berbunga yang hidup di pantai laut, dan membentuk ekosistem penting tersendiri yang berperan sebagai produsen primer di perairan laut tropis.

Sebagai produsen primer, lamun berfungsi sebagai sumber makanan berlimpah dan kaya akan bahan organik di mana daunnya yang tinggi dapat memiliki fungsi tersendiri.

Bagian daun dari lamun banyak dijadikan sebagai tempat hidup bagi organisme epifit, dapat meredam arus, mengurangi erosi dan mengumpulkan substrat, serta sebagai tempat sejumlah kecil ikan berlindung.

4. Ekosistem Terumbu Karang

Ekosistem terumbu karang berada di dasar laut di mana penghuni utamanya merupakan sejenis binatang berongga yang menghasilkan kapur, atau dikenal juga dengan nama karang batu.

Karang batu memiliki bentuk koloni yang beraneka ragam. Mereka merupakan substrat dasar dari terumbu karang yang sangat keras dan berfungsi sebagai rumah atau tempat tinggal dan tempat berlindung.

Beberapa biota laut yang biasanya menjadikan terumbu karang sebagai tempat tinggal dan berlindung contohnya seperti ikan, udang, hingga lobster.

Terumbu karang juga dapat dijadikan bahan obat-obatan, bahan untuk budidaya, destinasi wisata dan rekreasi laut, penghalang erosi akibat gelombang air laut, hingga tempat pengasuhan mayoritas jenis ikan.

Terumbu karang menjadi salah satu ekosistem laut yang penting dan dapat menunjang perekonomian masyarakat yang tinggal di berbagai pulau kecil di Indonesia.

Akan tetapi, sayangnya kian hari semakin banyak aktivitas manusia yang menyebabkan keberadaan terumbu karang menjadi terancam.

Zona Ekosistem Laut

Zona Ekosistem Laut
image by: dictio.id

Ekosistem laut memiliki pembagian zona yang dikelompokkan menjadi tiga jenis, yakni pembagian berdasarkan kedalaman, berdasarkan intensitas cahaya matahari, dan berdasarkan permukaan secara vertikal.

1. Zona Ekosistem Laut Berdasarkan Kedalaman

– Zona litoral: Zona yang berbatasan langsung dengan daratan dan memiliki kedalaman paling dangkal dan paling atas dari lautan. Hewan yang hidup di zona ini di antaranya bintang laut, kepiting, udang dan semacamnya.

– Zona neritik: Disebut sebagai ekosistem pantai pasir dangkal karena kedalamannya sekitar 200 meter dari permukaan laut. Di sini terdapat ekosistem pantai, ekosistem batu, hingga ekosistem terumbu karang.

– Zona oseanik: Zona terdalam dari ekosistem laut. Mmiliki kedalaman hingga 2000 meter dan dihuni oleh nekton. Sedangkan kedalaman yang lebih dari 2000 meter dihuni oleh predator, detrivor, dan pengurai.

2. Zona Ekosistem Laut Berdasarkan Intensitas Cahaya Matahari

– Zona fotik: Mempunyai kedalaman kurang dari 200 meter sehingga cahaya matahari mudah masuk.

– Zona Twilight: Kedalamannya berkisar 200 sampai 2000 meter, di mana cahaya matahari hanya bisa masuk sedikit saja.

– Zona afotik: Memiliki kedalaman lebih dari 2000 meter, sehingga cahaya matahari tidak dapat masuk.

3. Zona Ekosistem Laut Berdasarkan Permukaan Vertikal

– Epipelagik: Berada di antara permukaan laut hingga kedalaman 200 meter.

– Mesopelagik: Terletak antara kedalaman 200-1000 meter.

– Batiopelagik: Terletak di kedalaman 200-2.500 meter.

– Abisalpelagik: Berada pada kedalaman 4000 meter.

– Hadalpelagik: berada di kedalaman lebih dari 6000 meter.

Demikianlah pembahasan mengenai ekosistem laut beserta seperti apa ciri-ciri, jenis, hingga pembagian zona yang dimilikinya.

Ekosistem laut memiliki banyak manfaat bagi kelestarian alam dan kelangsungan hidup manusia. Sehingga sudah sepatutnya dijaga dari perilaku yang menyebabkan kerusakan.