Mengulik 7 Keunikan Aksara Lontara, Warisan Asli Suku Bugis Makassar

Aksara Lontara
image by: infobudaya.net

Waktuku.com – Aksara Lontara merupakan aksara tradisional yang digunakan oleh masyarakat suku Bugis di Makassar.

Seperti aksara tradisional dari daerah lainnya, aksara ini juga digunakan dalam penulisan sehari-hari maupun karya sastra di daerah itu mulai dari abad ke 14 hingga sekitar abad ke 20.

Karya sastra yang sangat populer dan ditulis dengan aksara tersebut adalah La Galigo, sebuah epos yang bercerita tentang mitologi di Bugis.

Menariknya, selain menjadi karya sastra paling panjang di dunia, penulisannya juga masih dilakukan di atas daun lontar belum menggunakan kertas.

Pengertian Aksara Lontara

Pengertian Aksara Lontara
image by: imajinasi-kontemporer.blogspot.com

Aksara Lontara yang juga populer dengan sebutan Lontaraq adalah bagian yang tak jauh daro kebudayaan suku Bugis.

Aksara lontara ini memiliki 23 huruf untuk lontara Bugis dan 19 huruf untuk Lontara Makassar. Dilihat dari jumlannya memang terdapat perbedaan di antara kedua aksara tersebut.

Aksara Bugis mempunyai huruf mpa’, nca’, nra’, dan ngka’. Sementara itu, di dalam aksara Makassar ridak terdapat huruf-huruf tersebut.

Bentuk aksara asal Bugis ini memang sanga Bugis dan menurut seorang professor bentuk itu berasal dari bentuk filosifis yang disebut sulapa’ appa’ walasuji.

Sulappa’ appa’ berarti empat sisi merupakan bentuk mitos dalam kepercayaan Bugis klasik yang menggambarkan tentang unsur pembentuk manusia, yakni api, air, angin, dan tanah. Walasuji bermakna sejenis pagar bambu yang biasa dipakai dalam acara ritual di Bugis.

Nama Lontara sendiri diambil dari kata lontar, yaitu salah satu jenis tumbuhan yang ada di daerah Sulawesi Selatan. Istilah Lontara juga berkaitan dengan sebuah literatur yang mengisahkan sejarah dan genealogi masyarakat Bugis, yakni Sureq La Galigo.

Penemuan Aksara

Aksara Lontara ditemukan oleh seorang syahbandar yang saat itu juga menjabat sebagai menteri urusan dalam negeri dari Kerajaan Gowa bernama Daeng Pamette.

Pada masa tersebut, aksara tradisional ini dipakai untuk menulis pesan serta dokumen penting lain karena kertas masih belum ditemukan.

Aksara ini juga memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat suku Bugis. Pasalnya, aksara ini mengandung nilai-nilai budaya tinggi yang menjadi pedoman hidup oleh masyarakat di suku tersebut.

Cara Penulisan Aksara

Cara Penulisan Aksara Lontara
image by: alphabettes.org

Aksara Lontara merupakan sistem tulisan abugida yang memiliki aksara dasar berjumlah 23 huruf. Penulisan huruf-huruf tersebut dilakukan dari arah kiri ke kanan.

Aslinya dalam penulisan tradisional, aksara ini ditulis tanpa menggunakan spasi serta memakai sedikit tanda baca.

Berbeda dengan sejumlah aksara tradisional Indonesia yang memiliki tanda baca virama untuk mematikan vokal, di dalam aksara ini tidak ditemukan jenis huruf seperti itu. Hal ini membuat aksara konsonan mati tidak dituliskan.

Bagi yang belum terbiasa menggunakan aksara ini tentu akan mengalami kesulitan tersendiri untuk memahaminya.

Sebagai contohnya tulisan “sr” bisa dibaca “sara” atau “sarang”. Tak heran jika cara membacanya pun terkadang berbeda dari satu orang ke orang lainnya, terutama yang masih belajar.

Bentuk Aksara

Bentuk Aksara
image by: news.okezone.com

Dilihat dari bentuknya, aksara asal Bugis ini memiliki bentuk yang cukup berbeda dengan aksara tradisional dari daerah-daerah lain. Aksara ini tidak memiliki garis melengkung atau bengkok. Semua huruf pada aksara ditulis dengan garis ke atas dan ke bawah.

Anda juga bisa menjumpai patahan di beberapa huruf yang mempertemukan garis lurus ke atas dan ke bawah.

Garis lurus dan patahan pada penulisan huruf tersebut ternyata memiliki arti tersendiri. Garis lurus merupakan lambang suku Bugis yang menyukai sikap kejujuran.

Sementara itu, patahan merupakan lambang bahwa masyarakat suku Bugis meyakini patah masih lebih baik dibandingkan dengan menjadi bengkok. Dari teknik penulisan pun bisa diketahui kalau garis tebal tipis lah yang digunakan bukan teknik tipis tebal.

Garis lurus ke atas harus dibuat dengan tebal sedangkan garis yang ke bawah harus dibuat dengan tipis atau halus.

Garis tebal bermakna tekad kuat untuk maju dan berkembang. Untuk garis tipis menggambarkan simbol kehalusan budi pekerti yang seharusnya dimiliki oleh manusia.

Penggunaan Aksara

Pada masyarakat tradisional Bugis jaman dahulu, aksara Lontara dipakai untuk menulis beberapa bahasa yang ada di Sulawesi Selatan. Bahasa Bugis adalah yang paling banyak ditulis dengan aksara ini. Lalu, disusul oleh Bahasa Makassar dan Bahasa Mandar.

Aksara ini juga mendapatkan sedikit modifikasi sehingga bisa dipakai untuk beberapa daerah lain di luar Sulawesi Selatan yang pernah mendapatkan pengaruh Bugis.

Sebagai contohnya Bahasa Bima yang ada di Sumbawa Timur dan Bahasa Ende yang digunakan di Flores.

Selain untuk menuliskan bahasa, aksara tradisional Bugis ini digunakan dalam tulisan sehari-hari dan sastra di Sulawesi Selatan.

Sekarang, aksara ini pun masih diajarkan di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal sebagai salah satu usaha untuk melestarikannya.

Aksara Lontara juga masih digunakan untuk menulis sejumlah naskah dan ditambahkan pada aksara daerah dalam penulisan papan penunjuk jalan, mama gedung, dan nama tempat di Sulawesi Selatan. Bahkan ada beberapa bangunan penting yang diberi nama dengan aksara ini.

Sejarah Aksara Lontara

Asal Mula Aksara

Sejarah aksara Lontara bisa dilihat dari sudah digunakannya aksara ini sejak sekitar abad 16 M, dimana pada saat itu pengaruh islam belum masuk ke Sulawesi Selatan.

Hal ini karena mengingat aksara ini memakai sistem abugida daripada huruf Arab yang kemudian menjadi umum di Sulawesi Selatan.

Aksara ini juga mendapat pengaruh dari aksara Brahmi yang berasal dari India Selatan. Banyak yang meyakini bahwa pengaruh aksara Brahmi masuk ke Sulawesi Selatan dengan perantara aksara Kawi. Pasalnya, aksara Bugis dan aksara Kawi memiliki kesamaan secara grafis.

Jika dilihat dari sejarah yang terdokumentasi, paling tidak ada empat aksara yang digunakan di Sulawesi Selatan.

Berdasarkan urutan kronologis, ada aksara Makassar, aksara Lontara, huruf Arab, dan huruf Latin. Dalam perkembangannya, keempatnya bisa dipakai bersamaan sesuai dengan konteks penulisan.

Hal tersebut bergantung pada naskah yang akan dituliskan, apakah akan menggunakan lebih dari satu aksara atau tidak. Kebanyakan penggunaan aksara Bugis ini dikombinasikan dengan huruf aksara Arab Melayu.

Perkembangan di Abad 19

Pada pertengahan abad ke-19, saat media cetak mulai berkembang, B.F. Matthes mengusulkan agar bahasa-bahasa daerah yang ada di Sulawesi Selatan, termasuk Lontara bisa dimasukkan ke dalam kamus, materi tata bahasa serta terjemahan untuk kitab Injil.

Pada tahun 1856, sebuah huruf cetak untuk menuliskan aksara ini akhirnya berhasil dibuat dengan cukup baik meskipun masih menerima sejumlah suntingan dalam beberapa tahun selanjutnya.

Sejak saat itu, banyak bacaan sastra di Bugis dan Makassar yang ditulis dengan menggunakan aksara ini.

Karena karya-karya sastra tersebut dicetak secara massal, maka aksara ini pun menjadi semakin lumrah di tengah masyarakat. Huruf cetak Lontara selanjutnya menjadi model pengajaran standar yang diberikan di sekolah-sekolah pada masa itu.

Aksara Lontara adalah aksara tradisional yang tak hanya memiliki keunikan dari segi bentuk namun juga pengaruh dari aksara lainnya. Begitu juga dengan bentuk, cara penulisan, dan penggunaannya.