Belajar 5 Aksara Bali Dengan Mudah dan Lengkap

Aksara Bali
image by: kreditpintar.com

Waktuku.com – Aksara Bali merupakan salah satu aksara tradisional Indonesia yang digunakan oleh masyarakat di Pulau Bali.

Seperti namanya, aksara ini memang dipakai untuk menuliskan bahasa Bali. Namun dalam perkembangannya, aksara ini juga bisa dipakai untuk menuliskan bahasa selain seperti bahasa Sasak.

Aksara ini memang telah menjadi media untuk menuliskan berbagai macam karya sastra dan tulisan sehari-hari di Bali sejak sekitar pertengahan abad ke-15.

Bahkan, penggunaan aksara tersebut masih bisa ditemukan hingga kini dan diajarkan di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal untuk melestarikan.

Pengertian Aksara Bali

Aksara Bali merupakan abugida yang mendapatkan pengaruh dari huruf Pallawa asal India. Jika dilihat sekilas aksara tradisional ini memiliki kemiripan dengan aksara Jawa, namun lekukan pada hurufnya terlihat berbeda.

Aksara tradisional Bali secara total terdiri dari 47 huruf yang terdiri dari 33 aksara wianjana atau huruf konsonan dan 14 aksara swara atau huruf vokal.

Namun, jumlah aksara wianjana yang sering digunakan jumlahnya hanya 18 huruf yang juga sering disebut dengan aksara Wresastra.

Ada juga kumpulan huruf yang memang khusus dipakai untuk menuliskan kata-kata dalam Bahasa Bali yang terpengaruh oleh Bahasa Sanskerta dan Kawi. Huruf-huruf tersebut dinamakan dengan aksara wianjana Kawi.

Meskipun sejumlah aksara Wianjana Kawi memiliki intonasi nada yang berbeda, namun pengucapannya sering disamakan dengan aksara wianjana Bali.

Jenis-jenis Aksara Bali

Dalam penulisannya, aksara tradisional Bali memiliki beberapa jenis seperti aksara dasar, gantungan miwah, aksara suara, tanda baca, dan angka. Fungsi dari jenis-jenis huruf tersebut seperti yang ada di bawah ini.

Aksara Wresastra

Aksara Wresastra
image by: https://www.facebook.com/gedeogiana/photos/a.108288140936823/202929168139386/

Aksara Wresastra merupakan aksara dasar yang paling sering dipakai untuk menuliskan Bahasa Bali. Aksara ini berjumlah 18 huruf dan terdiri dari ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, ma, ga, ba, nga, pa, ja, ya, dan nya.

Jika dilihat susunan aksara Wresastra ini sama seperti huruf dasar pada aksara Jawa namun tanpa huruf “tha” dan “nga” sehingga jumlanya lebih sedikit.

Selain memiliki banyak kemiripan dengan aksara-aksara tradisional di Asia Tenggara, aksara ini juga mendapatkan pengaruh dari Bahasa Sanskerta dan Kawi.

Jumlah aksara ini sebenarnya lumayan terbatas, namun seiring berjalannya waktu terjadi perkembangan di dalamnya karena pengaruh dari Bahasa Sanskerta.

Jumlahnya kini semakin banyak tak terkecuali karena banyaknya kata serapan yang juga turut mempengaruhi penggunaan aksara tersebut.

Aksara Wresastra meskipun dikategorikan sebagai aksara konsonan, namun akhirnnya memiliki bunyi “a”.

Maka, aksara ini tidak bisa digunakan sendiri terutama pada kata-kata yang berakhiran dengan huruf konsonan. Perlu huruf lain yang harus ditambahkan untuk bisa mematikan bunyi “a” yang mengikutinya.

Aksara Gantungan Miwah

Aksara Gantungan Miwah
image by: https://i.ytimg.com/vi/x1FTNUPXeZs/maxresdefault.jpg

Aksara gantungan miwah memiliki jumlah yang sama dengan aksara Wresastra, yakni 18 huruf. Pasalnya, aksara ini merupakan pasangan dari aksara Wresastra. Fungsinya pun sama dengan fungsi aksara pasangan pada aksara Jawa.

Karena aksara Wresastra ini merupakan konsonan yang memiliki bunyi vokal “a”, maka tidak bisa digunakan sendiri untuk menuliskan kata-kata yang berakhiran konsonan.

Penulisan kata tersebut harus ditambahi dengan gantungan aksara Bali yang sesuai agar bisa mematikan vokal tersebut.

Aksara gantungan miwah ini dituliskan setelah aksara yang akan dimatikan. Posisi penulisan masing-masing aksara gantungan berbeda tergantung huruf apa yang akan dimatikan.

Ada yang ditulis di bawah huruf, ditarik menggantung dari huruf sebelumnya, maupun di samping huruf yang akan dimatikan.

Aksara Swara

Aksara Swara
image by: https://begawanariyanta.wordpress.com

Aksara swara merupakan aksara yang memberikan bunyi vokal pada aksara tradisional Bali.

Aksara swara berjulam 7 huruf, 5 diantaranya sama dengan huruf vokal latin yang sering digunakan. Sementara dua lainnya merupakan bunyi vokal yang umum digunakan pada Bahasa Bali.

Lima aksara swara yang sama dengan huruf vokal latin adalah a, i, u, e, dan o. Sementara itu, dua aksara vokal lainnya adalah ra dan la.

Meskipun terdiri dari dua huruf, yakni vokal dan konsonan, namun di dalam Bahasa Bali, kedua bunyi itu termasuk bunyi vokal sehingga digolongkan sebagai aksara swara.

Aksara Tanda Baca

Aksara Bali ditulis tanpa menggunakan spasi antar katanya dan memiliki sejumlah tanda baca yang sering dipakai dalam penulisannya.

Tanda baca bernama carik kalih atau pareran berfungsi untuk mengakhiri kalimat seperti penggunaan titik pada huruf latin.

Ada juga tanda baca carik pamungkah yang memiliki fungsi seperti titik dua. Sementara untuk memisahkan kalimat, tanda baca yang dipakai adalah carik karena fungsinya seperti koma. Paměněng adalah tanda memenggal kata yang terputus di bagian tengah atau akhir kalimat.

Tanda baca lain yang sering digunakan di dalam aksara tradisional ini seperti panti, pamanda, dan carik agung umum berfungsi sebagai pengawal teks dan tanda pergantian tembang.

Ada juga pasalinan yang diletakkan di bagian belakang kalimat karena fungsinya adalah untuk mengakhiri teks.

Aksara Angka

Menuliskan lambang bilangan dengan aksara tradisional Bali pun sebenarnya cukup mudah dan mirip dengan aksara tradisional lainnya di Indonesia. Aksara ini memakai lambang bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 dengan aksara yang berbeda.

Beberapa lambang bilangan bentuknya sama dengan jenis aksara lainnya. Misalnya, lambang bilangan 2 penulisannya sama dengan aksara swara la lĕnga.

Karena bentuknya sama, maka lambang bilangan di tengah kalimat harus diapit dengan tanda baca carik agar fungsinya bisa dibedakan dengan jelas.

Jika ingin menuliskan angka berjumlah puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya, yang perlu dilakukan adalah mengurutkan tulisannya dari kiri ke kanan.

Konsep penulisannya seperti lambang bilangan pada umumnya sehingga Anda hanya perlu menghafalkan simbol lambang bilangan satuannya saja.

Penggunaan Aksara Bali

Aksara Bali digunakan oleh masyarakat Bali dan sekitarnya seperti Lombok pada masa sebelum kemerdekaan untuk menulis sehari-hari.

Aksara ini bahkan dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat untuk menuliskan sastra dengan cakupannya yang masih cukup luas dan beragam.

Sebagian besar karya sastra zaman dahulu yang ditulis dengan menggunakan aksara ini berbentuk tembang yang memang dibuat untuk dilantunkan.

Maka, teks yang dibuat tidak hanya dilihat dari isinya namun juga susunannya. Begitu juga dengan irama serta nada yang dipakai untuk melantunkannya.

Seiring dengan perkembangan yang terjadi, berbagai karya sastra dalam bahasa daerah seperti geguritan pun bisa diubah dengan Bahasa Bali. Dengan begitu, syair geguritan ini bisa dituliskan dengan menggunakan aksara tradisional Bali.

Penggunaan aksara tradisional ini juga masih bisa ditemukan dalam kehidupan masyarakat Bali sekarang.

Sebagai contohnya aksara ini masih sering dipakai untuk menuliskan singkatan dalam Bahasa Bali. Untuk penggunaan secara umum biasanya bisa ditemukan pada papan-papan penunjuk jalan.

Aksara Bali memiliki banyak kesamaan dengan aksara Jawa meskipun bentuk dan jumlahnya berbeda.

Penulisan aksara ini pun memiliki aturan tersendiri karena memiliki jenis-jenis huruf yang dipengaruhi oleh beberapa bahasa yang sempat populer pada masa lampau di Indonesia.