Tulisan Leo Lumanto yang Menginspirasi Semangat Untuk Jujur

karya Leo Lumanto

Waktuku.com – Sepanjang hidupnya, Leo lumanto telah membuat kisah melalui karya Leo Lumanto yang menginspirasi judulnya adalah ‘Spiritual Journey’. Karya Leo lumanto yang satu ini sangat inspiratif.

Karya Leo Lumanto mengajarkan tentang bangkit dan terus berjuang. kisah yang sangat inspiratif melalui Karya Leo lumanto yang satu ini/

Spiritual Journey

dalam satu keadaan seseorang terjatuh. Makna kata bangkit nampaknya hanya bisa disetarakan dengan satu makhluk hidup. Bangkit dapat diartikan bangun dari jatuh, berdiri kembali ataupun maju lagi dari satu kejatuhan.

Atau bangkit lebih mengingatkan saya akan satu kue kering khas daerah Sumatra, yah namanya Kue bangkit..,

.. saat saya tanya kenapa dinamakan Kue Bangkit, rupanya karena setelah didiamkan selama 1 hari 1 malam, adonan kue tadi akan mengembang dan membesar, dia akan bangkit. Maka nama bangkit itulah yang kemudian melekat di kue itu.

Sekarang Bangsa besar ini pun sedang merayakan Bangkit, Kebangkitan Nasional. Tidak tanggung-tanggung ini yang ke 100 tahun. Yah sudah 1 abad rupanya Bangsa ini bangkit atau baru merasa bangkit…???

Sayangnya kata bangkit disini bukanlah adonan kue yang renyah dan terasa lumer di mulut, tapi ini masalah bangkit yang lebih ke masalah rasa nasionalisme. Rasa kebangsaan yang patriotik.

Bangkit dari keterpurukan, bangkit dari bencana, bangkit dari rasa malu, bangkit dari persoalan yang terus membelenggu negeri ini. Tak pupus harap dan doa dipanjatkan setiap waktu. Begitu banyak sudah mujahadah doa dikumandangkan dan diselingi tetesan airmata dan rasa haru.

Betapa banyak sudah rumah yang terkoyak bencana, berapa banyak tubuh yang tercerai berai oleh musibah. Tak terhitung tanah yang sudah diuruk untuk pemakaman. Sudah tak terhitung harta benda yang hilang karena amarah alam.

Sebagian penduduk negeri ini sekarang tengah galau, mereka tidak berani lagi bermimpi akan hari esok, sementara hari ini saja belum tentu mampu mereka lalui.

Tidak ada lagi harap ditengah semua bahan pokok mulai menyumbat nafas, tidak ada lagi asa akan satu penghasilan yang membaik.

Nampaknya jargon “jangankan yang halal..yang haram aja susah” sudah menjadi analogi yang tak terbantahkan. Harapan akan hidup yang membaik di negeri ini seakan semakin pupus.

Sebagian penduduk negeri ini sekrang juga tengah galau berpikir bagaimana mengamankan asset mereka yang secara susah payah mereka peroleh dengan keringat orang lain.

Sebagian penduduk negeri ini tengah gundah rasa, mengingat harta mereka yang tak kunjung habis, sementara umur tak bisa mereka beli.

Sebagian penduduk negeri ini sedang menatap dengan nanar dari balik jendela kerkusen jati di perumahan kawasan elite. Mereka menatap kerumunan orang-orang yang sedang mengantri berhari-hari untuk sekadar 1 jerigen minyak tanah saja.

Dalam hati si kaya hanya mampu mengumpat “salahmu sendiri kenapa tidak mau kerja keras”..”salahmu sendiri kenapa tidak bangkit dari kemiskinan…??”

Lagi-lagi bangkit yang dipersalahkan…lagi-lagi bangkit menjadi kambing hitam akan keterpurukan sosial majemuk.

Para Elite Negeri ini dengan lantang berteriak soal bangkit. Mereka berusaha meniupkan bangkit, seakan bangkit itu satu energi kekuatan untuk keluar dari persoalan yang mendera.

Kebangkitan Nasional seakan menjadi momentum bangunnya masyarakat kita dari tidur panjang. Seolah-olah bencana yang bertubi-tubi melanda itu hanyalah mimpi belaka. Seakan-akan kenaikan BBM dan persoalan negeri ini hanya rekaan belaka.

Siapa yang harus bangkit terlebih dahulu? Masyarakat bawah yang sudah lama terinjak dan terpuruk? Atau para penguasa negeri yang sudah “bangkit” karena kekuasaan dan harta yang ia miliki?.

Kalau adonan kue bangkit butuh satu malam untuk mengembang dan baru bisa dipanggang dan kemudian dinikmati sebagai penganan ringan. Terus apakah cukup satu malam juga untuk mem”bangkit”kan negeri ini?

Atau butuh bermalam-malam atau malah berpuluh-puluh tahun lagi, baru bisa bangkit?

Esok hari sesama kita sang kaum papa tetap akan bangkit dari tidur lelap dan mimpi indahnya. Mereka akan bangkit mengais sesuap nasi di atas tanah negeri ini.

Esok pagi sang kaum papa tetap akan menebar harap diatas gundukan sampah yang semakin menggunung di negeri ini. Mereka akan tetap bangkit menaruh asa di antara gedung-gedung pencakar langit.

Mereka akan selalu bangkit akan harap yang mujarab. Harap akan doa yang insyaallah terkabul. Mereka sudah bangkit dan berusaha bangkit setiap hari dan putaran waktu. Kebangkitan mereka tak terkekang oleh rentang 100 tahunan.

Hanya saja mereka punya harap.. akankah bangkitnya mereka ini bisa mengantar mereka ke hidup yang semakin baik?

Mereka tidak paham akan urusan bangkit..membangkit yang belakangan marak dikumandangkan. Mereka hanya ingin bangkit untuk mampu meraih sepiring nasi dan lauk yang layak seperti dulu lagi.

Semua berpulang ke nurani kita, bahwa kebangkitan nasional ini semoga tidak hanya menjadi eforia semata.

Semoga saja para pelaku negeri ini benar-benar mampu memaknai kebangkitan ini sebagai satu hembusan nafas yang optimis akan satu perubahan yang positif. Semoga dimulai dari kebangkitan para individu di negeri ini yang tergerak untuk berlaku jujur terhadap bumi pertiwi ini.

Bangkitlah untuk jujur terhadap diri sendiri….