Istidraj Adalah Arti dan Makna Istidraj

Istidraj Adalah

Waktuku.comIstidraj adalah secara bahasa diambil dari kata da-ra-ja yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya. Namun, Istidraj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai hukuman yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung. Allah membiarkan orang ini tidak disegerakan adzabnya. Allah SWT berfirman:

“Nanti kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui” (QS Al-Qalam: 44)
(Al-Mu’jam Al-Lughah Al-Arabiyah, kata : da-ra-ja)

Dari Ubah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah, “Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)
(HR. Ahmad, no.17349, Thabrani dalam Al-Kabir, no.913, dan disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 414).

Kisah Istidraj Adalah Dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an ada kisah pemilik kebun yang diberikan nikmat, namun ternyata itu Istidraj. Kisah ini ada di surah Al-Qalam ayat 17-33.

17. Sungguh,kami telah menguji mereka (orang musyrik Mekkah) sebagaimana kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah pasti akan memetik (hasil)nya pada pagi hari,

18. Tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, “Insya Allah”)

19. Lalu kebun itu ditimpa bencana (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur.

20. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam gelap gulita,

21. Lalu pada pagi hari mereka saling memanggil,

22. ” Pergilah pagi-pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik hasil.”

23. Maka mereka pun berangkat sambil berbisik-bisik

24. “Pada hari ini jangan sampai ada orang miskin masuk ke dalam kebunmu.”

25. Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)

26. Maka ketika mereka melihat kebun itu, mereka berkata, “Sungguh, kita ini benar-benar orang-orang yang sesat,

27. Bahkan kita tidak memperoleh apa pun.”

28. Berkatalah seorang yang paling bijak diantara mereka, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, mengapa kamu tidak bertasbih (kepada Tuhanmu).”

29. Mereka mengucapkan, “Maha Suci Tuhan kami, sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim.”

30. Lalu mereka saling berhadapan dan saling menyalahkan.

31. Mereka berkata, “Celaka kita! Sesungguhnya kita orang-orang yang melampaui batas.

32. Mudah-mudahan Tuhan memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada yang ini, sungguh, kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.”

33. Seperti itulah azab (di dunia). Dan sungguh, azab akhirat lebih besar sekiranya mereka mengetahui.

Semua tindakan maksiat yang Allah balas dengan nikmat dan Allah membuat dia lupa untuk beristigfar, sehingga dia semakin dengan adzab sedikit demi sedikit. Kemudian Allah berikan semua hukumannya. Itulah yang dinamakan Istidraj adalah Allah a’lam

Via: konsultasisyariah.com, Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com