Ahok

Waktuku.comPengadilan Negeri Jakarta Utara, Hakim Ketua Pengadilan, Dwiarso Budi Santiarto, menegur Brigadir Polisi Satu Ahmad Hamdani, anggota Kepolisian Resor Kota Bogor yang menjadi saksi dalam sidang dugaan penistaan agama atas terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Baca juga: 14 Sudin PHL (Pekerja Harian Lepas) Mengadu Ke Ahok

“Saudara polisi yang tegas. Enggak usah ketawa-ketawa,” kata Dwiarso dalam sidang yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa, 17 Januari 2017. Ahmad Hamdani adalah polisi yang salah dalam mengetik laporan dari ari Willyudin Abdul Rasyid Dhani, pelapor Ahok.

Ia dihadirkan dalam sidang untuk dimintai klarifikasi atas dugaan salah dalam pengetikan laporan, sebab Willyudin mengaku menonton video kejadian Ahok dalam mengutip Surat Al-Maidah itu pada Kamis, 6 Oktober 2016.

Namun dalam berita pemeriksaan polisi yang tertulis adalah Kamis, 6 September 2016. Padahal, 6 September menunjukkan hari Selasa. Selain itu, peristiwa Ahok mengutip Surat Al-Maidah juga terjadi pada 27 September 2016.

Willyudin juga meminta penjelasan kepada pihak polisi untuk mengoreksi tanggal tersebut. Selanjutnya, Dwiarso meminta tanggapan kepada Ahmad. “Dia (Willyudin) bilang mengoreksi tanggal 6 September menjadi 6 Oktober. Menurut yang saudara alami?”

Ahmad pun membenarkan adanya permintaan atas koreksi ini, Dwiarso menanyakan lagi, mengapa tanggal kejadian itu masih salah, Ahmad pun menjawan dengan ragu. “Saudara sudah disumpah. Kalau enggak tahu ya ngomong enggak tahu. Enggak harus sesuai. Yang saudara alami masing-masing kami uji di sini. Saudara tadi katakan setelah selesai di-print disodorkan ke pelapor. Apakah koreksi termasuk tanggal?”

Ahmad pun menjawab kurang mengetahui akan hal ini, sebelum hakim menyudahi kesaksian Ahmad yang dimintai keterangan soal ada atau tidaknya koreksi tangga 6 September menjadi 6 Oktober, ia menjawab, “Saya tidak ingat.”

Williyudin sendiri juga tidak mengecek kembali waktu kejadian dalam laporan baru yang dicetak lagi. Ia sudah yakin jika benar setelah melihat laporan di komputer itu sudah dibenarkan, “Saya lihat di monitor sudah betul 6 Oktober. Terakhir itu saya tidak baca karena yakin sudah benar,” kata Willyudin. (ept/tmp)