4 Kisah Nabi Ibrahim Lengkap dan Singkat

kisah Nabi Ibrahim
image by: kisahsejarah.id

Waktuku.com – Kisah Nabi Ibrahim menjadi salah satu kisah yang sangat inspiratif terutama yang terkait dengan pengorbanan serta kepatuhan kepada Allah Swt.

Bagaimana tidak, beliau bahkan rela mengorbankan putra sendiri yang sudah dinanti-nanti kehadirannya sejak lama.

Kisah Nabi Ibrahim Berpisah dengan Nabi Ismail Hingga Menyembelihnya

Kisah ini menjadi teladan betapa sebagai seorang hamba harus patuh pada perintah Tuhannya meskipun perintah tersebut harus mengorbankan hal-hal yang dicintainya.

Namun kisah ini juga menunjukkan betapa Allah Swt memberikan ganjaran yang pantas kepada orang-orang yang taat kepada-Nya.

1. Nabi Ibrahim Meninggalkan Hajar dan Nabi Ismail Kecil di Tempat Gersang

Nabi Ibrahim Meninggalkan Hajar dan Nabi Ismail Kecil di Tempat Gersang
image by: alif.id

Nabi Ibrahim memiliki istri yang bernama Sarah yang tidak melahirkan anak sehingga kemudian beliau menikahkan Nabi Ibrahim dengan Hajar, wanita yang membantunya. Dari pernikahan ini, Nabi Ibrahim dan Hajar memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail.

Nabi Ismail lahir pada saat usia Nabi Ibrahim sudah sangat senja. Singkat cerita, Nabi Ibrahim bangun pada suatu hari lantas meminta Hajar untuk ikut serta dalam perjalanan yang panjang bersama Nabi Ismail yang masih bayi.

Perjalanan ini berlangsung selama berhari-hari hingga akhirnya mereka tiba di tempat yang tidak ada kehidupan sama sekali.

Jangankan manusia, disebutkan juga bahwa tempat itu tidak memiliki air serta tumbuhan dan yang terlihat sejauh mata memandang hanyalah bukit serta pasir.

Sangat jelas bahwa di tempat ini tidak ada tanda-tanda kehidupan. Namun Nabi Ibrahim menurunkan Hajar serta Ismail serta meninggalkan keduanya di sini.

Nabi Ibrahim hanya membekali Nabi Ismail kecil dan ibunya tersebut dengan makanan serta air yang jumlahnya sangat terbatas.

Usai membantu istrinya, Nabi Ibrahim justru naik kembali ke atas untanya. Tindakan Nabi Ibrahim ini membuat Hajar sangat terkejut sehingga kemudian bertanya beliau akan ke mana dan alasan mengapa beliau juga meninggalkan istri serta putranya di tempat yang tidak ada apapun selain pasir.

Mendapat pertanyaan tersebut, Nabi Ibrahim tidak menjawab. Kekhawatiran melingkupi Hajar karena bagaimana jika terjadi hal buruk atas mereka, apalagi Nabi Ismail juga masih bayi. Hajar kemudian kembali bertanya apakah perbuatan Nabi Ibrahim ini adalah hal yang diperintahkan oleh Allah Swt.

Nabi Ibrahim menjawab iya, pertanda bahwa memang Allah Swt yang memerintahkannya. Oleh karena iman Hajar yang kuat, mendengar bahwa ini adalah perintah Allah Swt, beliau kemudian merasa tenang.

2. Kisah Nabi Ibrahim dan Keluarga yang Ditinggalkan

Kisah Nabi Ibrahim singkat
image by: sakolaku.com

Meskipun sangat khawatir meninggalkan Hajar dan Nabi Ismail di tempat tersebut, Nabi Ibrahim tetap yakin bahwa Allah Swt akan menjaga keluarganya dan ini adalah salah satu ujian dari Dia. Nabi Ibrahim kemudian mendoakan untuk kebaikan Hajar dan Nabi Ismail kecil.

Sepeninggal Nabi Ibrahim, Hajar dan Nabi Ismail hanya mengonsumsi makanan serta minuman yang ditinggalkan Nabi Ibrahim. Namun karena jumlahnya terbatas, makanan dan minuman tersebut lekas habis yang membuat Hajar dan Nabi Ismail kelaparan.

Nabi Ismail menangis yang membuat Hajar juga menangis. Hajar kemudian meletakkan Nabi Ismail untuk mencari air.

Hajar berlari-lari antara gunung Safa ke gunung Marwa untuk menemukan makanan, minuman ataupun orang yang bisa membantu mereka.

Hal ini beliau lakukan sebanyak 7 kali dengan terus berdoa dan kemudian kejadian ini juga menjadi salah satu dari rangkaian ibadah haji. Karena tidak mendapatkan apa yang diharapkan, Hajar kembali pada bayinya dengan rasa haus yang belum terobati.

Dalam kondisi yang sulit ini, Allah Swt kemudian menurunkan rahmat-Nya. Kaki Nabi Ismail menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah sambil menangis dan memancarlah air dari sana. Pancaran air ini pula yang kemudian disebut dengan air Zam-zam.

Hajar segera meminum air tersebut dan juga memberikannya pada Nabi Ismail. Ibu dan anak ini selamat dan inilah bukti bahwa Allah Swt tidak akan pernah meninggalkan siapapun selama orang tersebut berada di jalan-Nya.

3. Muncul Tanda Kehidupan di Sekitar Sumur Air Zam-Zam

Nabi Ibrahim
image by: rumah123

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail masih terus berlanjut walaupun beliau berdua hidup di tempat yang terpisah.

Keluarnya air Zam-zam tidak hanya menyelamatkan Hajar dan Nabi Ismail kecil, namun juga memberikan kehidupan di tempat yang semula hanya berupa pada pasir tersebut.

Air Zam-zam terus keluar dan semakin lebar. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak kafilah musafir yang mampir dan mengambil air Zam-Zam. Bahkan tidak sedikit juga yang ikut tinggal di kawasan tersebut.

Hal ini menyebabkan daerah itu menjadi ramai dan muncul tanda-tanda kehidupan. Nabi Ismail juga terus tumbuh menjadi pemuda yang sholeh dan Nabi Ibrahim juga sangat menyayanginya. Akan tetapi, Allah Swt kembali menguji beliau berdua dengan ujian yang tidak kalah beratnya.

4. Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Nabi Ismail

Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Nabi Ismail
image by: titikdua.net

Salah satu penggalan kisah Nabi Ibrahim untuk anak yang populer ialah ketika beliau diperintahkan untuk menyembelih putranya.

Perintah ini diawali dengan munculnya mimpi dalam tidur Nabi Ibrahim. Dalam mimpi tersebut, beliau diperintah Allah Swt untuk menyembelih Nabi Ismail yang masih muda.

Nabi Ibrahim meyakini bahwa mimpi tersebut adalah perintah dari Allah Swt, sehingga walaupun rasanya berat, beliau akan tetap menaatinya.

Beliau kemudian menyampaikan mimpi tersebut kepada Nabi Ismail dan sekaligus menanyakan tentang pendapatnya.

Hal ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi Ibrahim. Beliau tetap menyerahkan urusan ini kepada Nabi Ismail. Namun Nabi Ismail dengan lapang dada menerima perintah tersebut.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail putranya tersebut diabadikan dalam Al Qur’an, yakni di dalam surat Ash – Shaffat ayat 102 yang bunyinya sebagai berikut.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Lalu, karena khawatir akan merasa berat saat melakukannya, Nabi Ismail meminta agar ayahnya mengikat tangan serta kakinya.

Kisah Nabi Ibrahim ini terus berlanjut dengan beliau yang menajamkan pisaunya dengan tujuan anaknya tidak merasakan sakit yang teramat sangat saat disembelih.

Usai menajamkan pisau, beliau mendekati Nabi Ismail yang sudah berbaring di atas tanah. Nabi Ibrahim segera mendekatkan pisau tersebut ke tenggorokan Nabi Ismail namun ternyata pisau yang tajam ini tidak bisa memotongnya.

Nabi Ismail meminta ayahnya agar melakukannya lebih keras lagi. Meskipun demikian, pisau tersebut tetap tidak bisa menjalankan tugasnya. Hal ini membuat Nabi Ibrahim meminta ampunan atas kelemahan beliau.

Akan tetapi Allah Swt menjawab bahwa Nabi Ibrahim sudah selesai dengan ujian yang sangat berat ini. Allah Swt kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba jantan yang besar. Domba inilah yang kemudian disembelih.

Saat digunakan menyembelih domba tersebut, pisau yang tadinya tidak mampu memotong tenggorokan Nabi Ismail ternyata bisa dipergunakan sebagaimana mestinya. Pisau ini memotong tenggorokan domba tersebut bahkan dengan sangat lancar.

Peristiwa penyembelihan ini pula yang kemudian diperingati sebagai salah satu hari raya umat Islam, yakni hari raya Idul Adha.

Kisah Nabi Ibrahim singkat yang melibatkan pengorbanan besar ini menjadi gambaran betapa taatnya beliau terhadap perintah Tuhannya.

Kisah Nabi Ibrahim ini juga menunjukkan bagaimana seharusnya pendidikan dalam keluarga.

Beliau juga menjadi suri tauladan terutama dalam hal kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian dan tantangan. Kisah ini sekalihus menunjukkan bahwa Allah Swt tidak akan pernah meninggalkan makhluk-Nya. Wallahu a’lam bish showab.